Pekanbaru -
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP mulai Rabu hingga Sabtu, 16-19 September 2026. Keputusan tersebut diambil setelah kualitas udara Kota Pekanbaru kembali memburuk dan dinilai sudah tidak aman bagi kesehatan anak-anak.
Agung menetapkan kebijakan itu setelah memimpin rapat evaluasi bersama organisasi perangkat daerah terkait, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sekaligus Koordinator BMKG Riau Warjono, S.Si., M.Kom., serta dokter spesialis paru konsultan Dr. dr. H. Surya Hajar Fitria Dana.
"Mulai besok sampai hari Sabtu, seluruh satuan pendidikan PAUD, TK, SD, dan SMP melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Keputusan ini kita ambil karena kondisi udara sudah sangat tidak sehat, terutama bagi anak-anak," kata Agung, Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, angka pemantauan kualitas udara BMKG pada pukul 14.00 WIB mencapai 220, sedangkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat 243. Kondisi tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat dan berisiko membahayakan kesehatan.
Agung menegaskan, kebijakan ini bukan meliburkan proses belajar. Anak-anak tetap mengikuti pembelajaran dari rumah dengan pendampingan orang tua dan materi yang disiapkan oleh sekolah.
"Kepada para guru, siapkan pembelajaran dengan baik dan jangan memberikan tugas yan justru memberatkan anak maupun orang tua. Kepada orang tua, kami mohon mendampingi anak-anak selama mengikuti PJJ," ujarnya.
Dokter spesialis paru konsultan Dr. dr. H. Surya Hajar Fitria Dana menilai kondisi udara saat ini sudah tidak sehat bagi anak-anak. Karena itu, keputusan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan mengalihkan kegiatan belajar ke rumah merupakan langkah yang tepat.
"Anak-anak tidak seharusnya terlalu banyak terpapar udara dengan kondisi seperti sekarang. Langkah pemerintah untuk sementara tidak menghadirkan anak-anak ke sekolah dan melaksanakan PJJ sudah tepat demi melindungi kesehatan mereka," jelas Surya Hajar.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Warjono menjelaskan, kabut asap menyebabkan jarak pandang di Pekanbaru turun hingga kurang dari 1.000 meter.
BMKG juga mencatat terdapat 29 hotspot di Provinsi Riau yang terpantau di wilayah Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Namun, berdasarkan arah angin yang bergerak dari tenggara dan selatan menuju utara, kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru saat ini dominan terbawa dari wilayah sebelah selatan.
"Berdasarkan arah angin, asap yang masuk ke Pekanbaru lebih banyak berasal dari arah selatan, termasuk dari Sumatera Selatan dan Jambi," jelas Warjono.
Ia juga menerangkan bahwa berdasarkan pola angin saat ini, asap yang terpantau di Singapura diperkirakan bukan berasal dari Riau. Asap tersebut lebih mungkin terbawa dari Sumatera Selatan, Jambi, atau Kalimantan.
Agung mengingatkan bahwa meskipun saat ini tidak terdapat titik api di Kota Pekanbaru, masyarakat tetap dilarang melakukan pembakaran sembarangan.
Kelompok rentan, terutama balita, anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah. Masyarakat yang membutuhkan masker dapat mendatangi puskesmas terdekat.
"Kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, adalah nomor satu. PJJ kita laksanakan sampai Sabtu. Selanjutnya, kondisi udara akan terus dipantau dan dievaluasi berdasarkan data BMKG, ISPU, serta pertimbangan tenaga kesehatan," tutup Agung.
(anl/ega)


















































