Energi Jadi Nadi Negara: Sekali Padam, Layanan Publik Bisa Tumbang

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Energi memiliki posisi sangat strategis dalam menopang layanan komunikasi dan layanan publik. Tidak hanya menghidupkan jaringan komunikasi, energi adalah nadi yang membangun pusat data, sistem pembayaran, hingga berbagai platform pelayanan publik.

Keberadaan energi memastikan Base Transceiver Station (BTS), jaringan fiber optik, stasiun pemancar, data center, hingga sistem satelit tetap hidup.

Dengan besarnya peran energi, maka gangguan pasokan kemudian tidak berhenti pada persoalan listrik padam. Dampaknya bisa merembet menjadi gangguan komunikasi, terputusnya akses informasi, terganggunya transaksi digital, hingga terhambatnya pelayanan publik

Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels) Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)

Di tengah ancaman krisis energi global, kemampuan menjaga rantai ini menjadi kunci agar negara tetap hadir dan pelayanan publik tidak ikut "padam".

Bayangkan jika energi tiba-tiba terganggu. Bukan hanya lampu yang padam atau aktivitas industri yang terhenti, tetapi juga lalu lintas layanan pemerintah yang ikut tersendat.

Pentingnya Membangun Ketahanan Energi di Era Digital

Perang Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026 membuka mata dunia akan pentingnya ketahanan energi.

Perang membuat Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi nadi perdagangan komoditas energi dunia, mulai dari minyak hingga gas. Dunia pun kelabakan karena pasokan energi mendadak berkurang.

Dalam hal pasokan energi, terutama untuk listrik, Indonesia diuntungkan karena sekitar 40% pasokan energi primernya menggunakan batu bara. Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar membuat dampak guncangan energi bisa dimitigasi.

Indonesia juga berupaya mengantisipasi risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dengan mendiversifikasi sumber impor minyak mentah, termasuk mencari pasokan dari Amerika Serikat dan kawasan lain di luar Timur Tengah.

Membangun ketahanan energi bukan sekadar mencari sumber pasokan sebanyak-banyaknya. Pemerintah juga harus memastikan energi tersedia, pembangkit siap bekerja, bahan bakar aman, jaringan transmisi kuat dan sistem mampu merespons perubahan kebutuhan, terutama di dunia digital.

Peran BUMN seperti PT Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun menjadi sangat vital.

Jika PLN menjadi pemasok utama listrik untuk menghidupkan infrastruktur digital, Pertamina berperan memastikan ketersediaan BBM yang menopang distribusi energi, mobilitas, serta sumber listrik cadangan di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.

Pertamina menopang rantai energi dan operasional lapangan. BBM dibutuhkan untuk menggerakkan kendaraan distribusi yang mengangkut perangkat telekomunikasi, teknisi, dan pasokan energi ke berbagai daerah.

Tower Base Transceiver Station Milik Telkomsel Bukit Dengas. (Dok. Telkomsel)Tower Base Transceiver Station Milik Telkomsel Bukit Dengas. (Dok. Telkomsel) Foto: Tower Base Transceiver Station Milik Telkomsel Bukit Dengas. (Dok. Telkomsel)

Di lokasi tertentu, BBM juga digunakan untuk genset cadangan BTS, terutama ketika pasokan listrik utama terganggu atau jaringan listrik belum menjangkau wilayah tersebut.

BTS membutuhkan listrik 24 jam sedangkan ada sekitar 740.000 BTS di seluruh indonesia. Ketika listrik dari jaringan PLN padam atau belum tersedia, genset berbahan bakar diesel/BBM dapat menjadi sumber listrik cadangan agar BTS tetap beroperasi.

BBM tidak hanya digunakan kendaraan, tetapi juga menjadi energi pendukung infrastruktur telekomunikasi.

Di sisi lain, PLN menjadi fondasi listrik infrastruktur digital. Pasokan listrik PLN dibutuhkan untuk mengoperasikan BTS, jaringan fiber optik, perangkat transmisi, pusat data, kantor pemerintahan, sekolah, puskesmas, hingga fasilitas pelayanan publik.

Semakin stabil pasokan listrik, semakin kecil risiko gangguan terhadap konektivitas dan layanan digital.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sepanjang tahun 2025 kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai 107,51 gigawatt (GW).

PLN bertugas membangun listrik sampai daerah terpencil, memperkuat jaringan serta mengembangkan sumber energi alternatif, mulai dari tenaga surya hingga gas bumi.

Pengembangan energi baru dan terbarukan ini juga menjadi bagian penting pemerintah dalam membangun ketahanan energi.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |