Menilik Sejarah Tradisi Bagi-bagi Hampers Lebaran di Indonesia

2 hours ago 3

Jakarta -

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di Indonesia kerap saling mengirim bingkisan atau hampers kepada keluarga, kerabat, hingga rekan kerja. Tradisi ini telah menjadi bagian dari suasana Lebaran yang identik dengan kebersamaan dan saling berbagi.

Di balik kebiasaan tersebut, tradisi hampers ternyata memiliki sejarah panjang yang berkembang dari waktu ke waktu. Mulai dari praktik yang muncul di luar negeri hingga akhirnya menjadi budaya yang populer di Indonesia saat perayaan hari raya.

Sejarah Tradisi Hampers Sejak Abad ke-11

Jika menilik sejarah internasional, tradisi hampers telah dikenal sejak berabad-abad lalu. Catatan sejarah menyebutkan praktik berkirim bingkisan dalam keranjang sudah ada sejak abad ke-11. Mengutip dari Tamasia, tradisi ini diperkenalkan pertama kali oleh William The Conqueror setelah Pertempuran Hastings.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada masa itu, keranjang anyaman digunakan untuk membawa makanan dan minuman selama perjalanan darat maupun laut yang cukup panjang. Bahan anyaman dipilih karena lebih ringan dibandingkan kayu serta cukup kuat untuk menjaga isi di dalamnya tetap aman hingga sampai ke tujuan.

Memasuki abad ke-19, tradisi hampers mulai berkembang di Eropa. Pada masa revolusi industri, keluarga kelas menengah dan atas di era Victoria menjadikan hampers sebagai hadiah dalam perayaan penting, seperti Natal. Seiring waktu, kebiasaan memberikan bingkisan ini kemudian dikenal luas dan digunakan dalam berbagai perayaan.

Perkembangan Tradisi Hampers di Indonesia

Di Indonesia, tradisi berbagi bingkisan sebenarnya sudah dikenal sejak masa kolonial. Seperti dilansir portal informasi pemerintah InfoPublik, dosen sejarah Universitas Airlangga Moordiati S.S., M.Hum menjelaskan bahwa praktik tersebut pada awalnya hanya dilakukan oleh kalangan tertentu pada masa kolonial Belanda.

Hal tersebut terjadi karena adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang cukup besar pada masa itu. Tradisi berbagi bingkisan juga tidak berkembang pada masa pendudukan Jepang karena masyarakat lebih fokus menghadapi kondisi kehidupan yang sulit.

Menurut Moordiati, kebiasaan tersebut baru mulai dikenal luas di masyarakat pada sekitar tahun 1980-an dengan sebutan parsel Lebaran. Isi parsel pada masa itu umumnya berupa makanan khas Lebaran seperti kue kering. Pada tahun 2000-an penggunaan istilah hampers mulai lebih populer di masyarakat.

Perubahan Makna Hampers dalam Masyarakat

Seiring perkembangan zaman, isi dan istilah hampers kemudian mengalami perubahan dan semakin beragam, mulai dari makanan, pakaian, hingga berbagai barang rumah tangga. Kepopuleran hampers bahkan mendorong pelaku usaha menjadikannya sebagai produk yang dijual secara khusus menjelang hari raya.

Menurut penjelasan Moordiati, pada awalnya pemberian hampers merupakan bentuk ucapan terima kasih dan balas budi kepada penerima. Namun dalam perkembangannya, hampers juga dimaknai sebagai simbol apresiasi atau penghargaan kepada orang lain dalam berbagai momen sosial, termasuk perayaan Idul Fitri.

Dengan demikian, tradisi berbagi hampers Lebaran memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Dari kebiasaan membawa makanan dalam keranjang pada masa lampau hingga menjadi budaya berbagi bingkisan saat hari raya di Indonesia sekarang ini.

Lihat juga Video: Sirup-Hampers Lebaran Murah Meriah di Transmart Full Day Sale

(wia/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |