Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memutuskan berhenti melakukan pengolahan sampah yang dikirim Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Lalu, bagaimana kiat terbaru Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel mengatasi masalah tumpukan sampah di wilayahnya?
Sebagian sampah di Tangsel sempat dikirim ke Kabupaten Bogor untuk diolah. Namun, kebijakan itu kini dihentikan oleh Pemkab Bogor.
"Penghentian ini dilakukan menyusul ditemukannya aktivitas pengolahan sampah yang belum sesuai dengan perizinan dan persetujuan lingkungan yang dimiliki perusahaan, serta sebagai langkah perlindungan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar," kata Bupati Bogor, Rudy Susmanto, dalam keterangannya, Selasa (13/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampah tersebut dikirim dengan volume mencapai sekitar 200 ton per hari. Sebelum dilakukan penghentian, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan pengecekan menyeluruh.
"Terutama terkait perizinan usaha, aspek dampak lingkungan, serta persetujuan lingkungan. Termasuk di dalamnya memastikan apakah kegiatan tersebut telah memperoleh persetujuan dari masyarakat sekitar atau belum," jelasnya.
DLH Kabupaten Bogor lalu menemukan adanya kerja sama Pemkot Tangsel dengan pihak swasta dalam pengolahan sampah. Pemkab Bogor lalu mengungkap adanya izin yang belum terpenuhi pihak swasta itu sehingga pengolahan sampah dari Tangsel di Bogor dihentikan.
"Kegiatan pengolahan sampah domestik merupakan aktivitas berbeda dan belum berizin. Oleh karena itu, Pemkab Bogor secara bersama-sama menghentikan sementara aktivitas tersebut," kata Kadis DLH Kabupaten Bogor Tengku Mulya.
Pemkot Tangsel Janji Ada Solusi Cepat
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan buka suara usai Pemkab Bogor menghentikan kegiatan pemrosesan sampah domestik yang berasal dari Tangsel. Pilar mengatakan keputusan itu masih akan dibahas lebih lanjut.
"Saat ini kami berkomunikasi dengan pemerintah daerah Kabupaten Bogor terkait kerja sama Tangsel dengan Aspex Kumbong," kata Pilar kepada wartawan, Rabu (14/1).
Pilar mengatakan perusahaan swasta yang bekerja sama dengan Pemkot Tangsel untuk pengolahan sampah sudah punya izin dari pemerintah. Dia bersikukuh untuk tetap menjalin komunikasi mencari jalan keluar masalah tersebut.
"Karena Aspex Kumbong sendiri memiliki perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai tempat pengelolaan sampah dengan alat. Tinggal nanti komunikasi terus kita bangun," ucapnya.
Pilar berharap kerja sama tersebut berjalan kembali setelah proses komunikasi berjalan. Dia memastikan solusinya akan ada dalam waktu dekat.
"Tapi insyaallah mudah-mudahan ada titik terang sampai kita bekerja sama sampah antara Tangsel dengan Aspex Kumbong ini bisa terus berjalan dengan baik. Tapi sejauh ini komunikasi terus dibangun. Insyaallah menemukan titik terang seperti itu dan mudah-mudahan ada berita baik dalam waktu yang dekat," kata dia.
Pilar menyebut pengiriman sampah ke Cileungsi dihentikan sementara. Dia masih menanti jawaban lebih lanjut dari Pemkab Bogor.
Sementara itu, pembuangan sampah dari Tangsel kini diarahkan ke Cilowong, Serang, Banten. "Cilowong masih berjalan. Walaupun sekarang baru bisa 10 truk per hari," sambung Pilar.
Pemkot Petakan 3 Wilayah Darurat Sampah di Tangsel
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengungkap ada tiga wilayah paling kritis penanganan sampah di Tangsel. Di sana, penumpukan sampah lebih banyak dibanding wilayah lainnya.
"Hampir semua kali ya. Ciputat, Ciputat Timur, kemudian Serpong. Kritis timbulan sampahnya banyak di luar. Di bawah itu ya Pamulang, Pondok Aren, Serpong Utara," kata Benyamin kepada wartawan, Rabu (14/1).
Benyamin menyebut telah berkomunikasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk penanganannya. Pihaknya akan menggencarkan bank sampah hingga tempat pengolahan sampah reduce reuse recycle (TPS3R). Sampai saat ini dia melihat belum semua TPS3R aktif optimal.
"Yang pertama penanganan pengelolaan sampah di tingkat hulu, di tingkat masyarakat. Bank sampahnya, TPS3R-nya dibentuk. Ditargetkan kalau sekarang baru ada 54 bank sampah (TPS3R) dari semua ini. Dan aktifnya hanya 36 (TPS3R), kalau nggak salah itu ditingkatkan lagi nanti," kata dia.
Untuk mewujudkan itu, Benyamin mengatakan Kementerian Lingkungan Hidup akan turun tangan langsung memberi pendampingan pembentukan TPS3R dan bank sampah. Katanya, hal ini sudah jadi komitmen dari pemerintah pusat dan Gubernur Banten.
"Mereka nanti akan menempatkan di tujuh kecamatan ini sejumlah pegawai dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk membantu memfasilitasi pembentukan bank sampah misalnya, mencatat, mendokumentasikan TPS 3R, titik-titik kritis soal sampah di tiap wilayah seperti itu," kata dia.
"Ini komitmen dari Pak Menteri Lingkungan Hidup dan tentunya juga arahan dari Pak Gubernur Banten. Kita akan terus membenahi penanganan sampah di Tangerang Selatan dalam skala jangka pendek, jangka menengah, juga jangka panjang seperti ini," sambungnya.
Saksikan Live DetikPagi:
(ygs/rfs)


















































