Jakarta -
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI buka suara terkait produk Nestle yang menarik produk susu formula di 49 negara. Pihak BPOM juga menemukan produk susu formula yang terdampak bernama S-26 Promil Gold pHPro 1 untuk bayi usia 0-6 bulan dengan nomor izin edar ML 562209063696 dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1 di Indonesia.
Meski demikian, hasil pengujian pada bets terdampak menunjukkan toksin cereulide tidak terdeteksi.
"Berdasarkan penelusuran terhadap data importasi BPOM, 2 bets produk susu formula terdampak tersebut diimpor ke Indonesia. Namun, hasil pengujian terhadap sampel produk dari 2 bets terdampak menunjukkan toksin cereulide tidak terdeteksi (limit of quantitation/LoQ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi menjaga kehati-hatian, pihak BPOM tetap meminta PT Nestle Indonesia untuk menghentikan distribusi dan melakukan penghentian importasi produk terdampak. PT Nestle Indonesia juga sudah telah melakukan penarikan secara sukarela dari peredaran terhadap semua produk susu formula bayi dengan bets yang terdampak.
Saran BPOM: Hentikan Penggunaan!
Meskipun penarikan dilakukan secara sukarela oleh pihak produsen sebagai langkah pencegahan, BPOM meminta masyarakat untuk tetap waspada. Bagi orang tua yang merasa telah membeli produk terdampak, BPOM memberikan imbauan tegas.
BPOM mengimbau agar masyarakat yang memiliki produk S-26 Promil Gold pHPro 1 (nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1) untuk segera menghentikan penggunaan produk.
"Kembalikan produk tersebut ke tempat pembelian atau hubungi layanan konsumen PT Nestlé Indonesia untuk proses pengembalian atau penukaran," kata BPOM.
Bakteri ini menghasilkan toksin cereulide. Berbeda dengan bakteri biasa, cereulide sangat sulit dihancurkan, bahkan dengan air mendidih saat menyeduh susu. Jika tertelan, bayi dapat mengalami gejala keracunan yang muncul dengan cepat, antara lain mual dan muntah hebat, kram atau nyeri perut dan diare.
"Keamanan pangan dan kesejahteraan bayi adalah prioritas utama kami. Masalah ini teridentifikasi berasal dari bahan baku minyak arachidonic acid (ARA) yang dipasok oleh salah satu mitra kami," ungkap pihak Nestlé dalam pernyataan resminya.
Terkait fenomena ini, BPOM memastikan akan terus mengawal proses penarikan produk ini dari peredaran untuk memastikan tidak lagi unit yang tersisa di rak penjualan maupun di tangan konsumen.
"Masyarakat juga diminta untuk selalu menjadi konsumen cerdas dengan melakukan Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) sebelum membeli produk pangan apapun," tegasnya.
Apa itu cereulide?
Diketahui, Nestle menarik produk susu formula di 49 negara setelah muncul dugaan kontaminasi cereulide. Lalu, apa itu cereulide?
Dikutip dari Food Standards Agency UK, cereulide adalah toksin yang dihasilkan oleh beberapa strain bakteri Bacillus cereus. Toksin ini sangat tahan panas, sehingga kecil kemungkinan dapat dinonaktifkan atau dihancurkan melalui proses memasak, penggunaan air mendidih, maupun saat menyiapkan susu formula bayi.
Jika tertelan, cereulide dapat menyebabkan gejala muncul dengan cepat. Gejala akibat toksin ini meliputi mual, muntah, dan kram/perut melilit.
Kepala bagian insiden FSA, Jane Rawling, mengatakan orang tua, wali, dan pengasuh tidak boleh memberi makan bayi atau anak kecil dengan produk yang terkontaminasi.
"Sekalipun Anda belum menemukan tanda-tanda kesehatan buruk pada bayi Anda akibat konsumsi produk ini, sangat penting untuk menghentikan penggunaannya," kata FSA.
Sebagai informasi, higga saat ini belum ada lapran keracunan akibat sufor Nestle di Indonesia. Hal ini ditegakan langsung oleh Kepala BPOM RI Taruna Ikrar.
"Belum ada laporan masuk ke Badan POM yang mengalami keracunan," kata Ikrar ketika ditemui di kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).
"Oleh karena itu, kami minta kepada Nestle, produk yang bermasalah itu untuk ditarik secara sukarela dan Nestle-nya bersedia," sambungnya.
Saksikan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Kamis (15/1/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube, TikTok dan Facebook detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.
"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"
(Trypama Randra/Trypama Randra)


















































