Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkap kronologi kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dudy mengatakan pesawat tersebut sempat keluar dari jalur sebelum akhirnya hilang kontak.
Hal itu disampaikan Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Dudy menjelaskan, pada Sabtu (17/1) pukul 08.08 WIB, pesawat tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi pemantauan wilayah perairan Indonesia.
"Pesawat ATR 42-500 melaksanakan penerbangan dari Yogya menuju Makassar, dengan jumlah manifes sepuluh orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian KP," kata Dudy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, pada pukul 12.23 WITA, ATC Makassar Area Terminal Service Center mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu 21 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Namun, petugas ATC mendeteksi pesawat tak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya.
"Pukul 12.23 WITA, ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, dan memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat serta sampaikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur," jelasnya.
Tak lama setelah itu, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau lost contact. ATC langsung mendeklarasikan fase darurat sesuai prosedur yang berlaku.
"Selanjutnya Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten, instansi terkait, membentuk crisis center yang disiapkan di bandara Sultan Hasanuddin makassar," ujarnya.
Pada Minggu (18/1), operasi pencarian terpadu dimulai pukul 06.15 Wita, dengan mengerahkan drone TNI AU di wilayah Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep. Pada pukul 07.46 Wita, tim SAR gabungan mengidentifikasi serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan.
"Pukul 07.49 Wita ditemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya," kata dia.
"Pukul 10.05, konpers dilakukan di bawah koordinasi Basarnas, bersama TNI, Polri, KNKT, Kemenhub, Airnav," sambungnya.
Pada pukul 11.59 Wita, satu jenazah berjenis kelamin laki-laki ditemukan. Tim gabungan pun segera melakukan proses evakuasi.
Pukul 18.30 Wita, Kemenhub melakukan rapat koordinasi dengan semua pihak. Rapat tersebut untuk memonitor pelaksanaan dari operasi SAR yang dilakukan Basarnas.
"Pada Senin 19 Januari 2026, seluruh pihak terkait dengan SAR melakukan koordinasi ulang di lokasi posko yang berada di ujung lokasi terdekat daripada tempat kejadian, yaitu di kecamatan Baloci, Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan," ujar Dudy.
Dudy mengatakan terdapat kendala dalam proses pencarian dan evakuasi akibat kondisi cuaca dan medan di lokasi kejadian. Dia mengatakan wilayah tersebut diselimuti awan tebal dan hujan sejak pagi hingga sore hari.
"Pada saat kunjungan dilakukan hari Senin kemarin bahwa terlihat memang kondisi cuaca di lokasi cukup tebal awannya. Jadi dari pagi hingga sore cuacanya hujan, dan itu sangat menyulitkan bagi tim penyelamat atau rescuer untuk laksanakan pekerjaannya," ujarnya.
"Medan yang kami lihat cukup terjal, dengan kemiringan kurang lebih hampir sampai 70-80 derajat, dengan kondisi licin dan hujan. Sehingga menyulitkan," lanjut dia.
Saat ini, kata dia, Basarnas telah menyiapkan lokasi di Lanud Hasanuddin untuk mengumpulkan seluruh bagian pesawat yang berhasil ditemukan. Proses identifikasi korban dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan. Dia mengatakan ada satu jenazah lagi yang telah ditemukan.
"Saat ini bahwa sudah ada sekitar 1.200 petugas yang lakukan upaya pencarian di lokasi kejadian. Sebab dari kejadian tersebut tentu kami masih menunggu hasil penyelidikan KNKT, dan bisa kami sampaikan kami belum dilaporkan apakah sudah ditemukan atau tidak black box-nya," ucap dia.
(amw/haf)

















































