Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan keputusan pemandu lalu lintas udara (ATC) terkait arah pendaratan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lasarus menyoroti alasan pesawat tak diarahkan untuk berputar di wilayah laut saat kondisi cuaca memburuk.
Hal itu disampaikan Lasarus saat rapat kerja dengan Kemenhub, KemenPU, Basarnas, BMKG, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Mulanya, Dirut AirNav Indonesia Avirianto suratno, menjelaskan pemilihan runway didasarkan pada arah dan kecepatan angin.
"Jadi di situ anginnya kan dari 250 sampai 290, Pak, dengan kecepatan rata-rata 10 knot. Sedangkan kalau memang kita mau menggunakan runway sebaliknya, 030, itu tendensi tailwind," ujar Avirianto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Avirianto menjelaskan angin bertiup dari arah utara sehingga jika pesawat mendarat dari arah berlawanan akan terkena angin dari belakang. Avirianto menyebut faktor angin berpengaruh terhadap performa pesawat, sehingga pesawat diarahkan menggunakan runway 21.
"Kalau angin itu berpengaruh sama performance pesawat, sehingga diarahkan ke runway 21, Pak, dari arah selatan," ujarnya.
Lasarus kemudian mempertanyakan apakah ATC mengarahkan pesawat ke posisi gunung. Avirianto pun menegaskan pihaknya tak mengarahkan.
"Berarti mengambil dari posisi gunung itu bukan arahan dari ATC? Itu kesimpulan dulu," ujar Lasarus.
"Bukan, Pak," jawab Avirianto.
Meski begitu, Avirianto mengatakan pemilihan runway 21 dilakukan karena kondisi cuaca. Lasarus kembali menegaskan bahwa runway 21 berarti pesawat datang dari arah pegunungan.
"Karena cuaca, Pak. Jadi akhirnya memang arahnya harus dari runway 21," kata Avirianto.
"Maksudnya runway 21? Runway 21 ini dari arah gunung tadi?" tanya Lasarus.
"Iya, Pak. Sebenarnya kalau memang kita, karena kan kita sudah sering, Pak, datang dari situ. Kalau kita mengikuti prosedurnya, tidak sampai ke situ (gunung), Pak," jawab Avirianto.
Namun, Lasarus menyoroti pengambilan keputusan dalam kondisi cuaca buruk. Menurut dia, seharusnya pesawat diarahkan untuk berputar di atas laut jika kondisi cuaca buruk.
"Kalau ATC punya pilihan yang lain, ini bukan pilihan yang harus dipilih, Pak. Apalagi dalam kondisi cuaca buruk. Kalau cuaca bagus, ya sudah, Pak, Bapak tidak perlu jelasin ke kita, pasti aman. Karena cuaca buruklah tidak boleh disentuh wilayah ini. Harusnya, loh. Harusnya ATC tidak boleh mengarahkan ke situ harusnya," kata Lasarus.
"Harusnya ATC suruh mengarahin saja muter-muter di laut sana gitu lho, Pak," sambungnya.
Lasarus mengaku telah meminta pendapat sejumlah pilot sebelum menyampaikan pandangannya dalam rapat. Dia menegaskan dalam kondisi buruk, gunung bukan merupakan pilihan terbaik.
"Ini kan Kepala Direktur Utama AirNav ini Kapten, jam terbang tinggi. Saya tanya pilot juga, teman-temannya Bapak. 'Pak, dalam cuaca buruk itu bukan pilihan dari situ'. Singkat ceritanya, Pak. Kalau cuaca buruk bukan ke gunung," tuturnya.
(amw/isa)
















































