Kalapas Cerita Upaya Napi Korupsi-Umum Kontribusi untuk Asta Cita Lewat Sukaboat

1 hour ago 3

Jakarta -

Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, dikenal sebagai lapas narapidana (napi) kasus korupsi, tapi di dalamnya juga terdapat napi kasus pidana umum. Mereka berkolaborasi dalam bimbingan kerja pembuatan kapal cepat atau speedboat.

Produk kapal buatan napi Lapas Sukamiskin itu diberi merek 'Sukaboat'. Dalam prosesnya, narapidana kasus korupsi mengawaki sisi manajerial produksi kapal, sedangkan warga binaan kasus pidana umum mengerjakan aspek teknis.

"Dalam pembuatan kapal ini narapidana kasus korupsi yang mempunyai basic management, inovasi, dan keahlian di bidang kapal serta desain akhirnya melebur dengan narapidana umum seperti kasus narkoba dan kejahatan jalanan," kata Kalapas Sukamiskin Nanank Syamsuddin saat ditemui detikcom pada Jumat (21/8/2026) di Lapas Sukamiskin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nanank Syamsuddin mengaku awal menjadi Kalapas Sukamiskin sempat berpikir program kegiatan kerja akan sulit dikembangkan di lapas yang mayoritas dihuni narapidana kasus korupsi. Sebab, menurutnya, sebagian warga binaan tersebut sebelumnya merupakan pejabat atau pimpinan di instansi maupun lembaga dan terbiasa bekerja pada level manajerial.

"Ini adalah lapas untuk narapidana korupsi. Tentunya imej yang ada di benak saya, tidak ada program yang jalan karena ini adalah kaum intelektual," sebut Nanank.

Menurut Nanank, kegiatan kerja di lapas selama ini identik dengan pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan langsung di lapangan. Sedangkan sebagian warga binaan kasus korupsi di Sukamiskin mempunyai latar belakang pekerjaan di balik meja.

"Rata-rata program kerjanya itu adalah skala kerja lapangan. Nah, di situ yang tumbuh di benak saya bahwa ini akan sulit berjalan karena mereka kan dulu sebelum masuk sini pejabat atau pimpinan instansi/lembaga yang biasa di manajerial. Ini adalah hal sulit karena kita berpikirnya, oh, kerja lapangan," ujarnya.

Nanank mengaku melihat pendekatan lain seiring dengan berjalannya waktu. Pihak lapas melihat kapasitas, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki napi koruptor. Kemampuan mereka, dijelaskan Nanank, dapat diarahkan untuk membantu mengembangkan program pembinaan di dalam lapas.

"Seiring berjalannya waktu ternyata memang kita menemukan nilai yang berbeda. Keberadaan mereka di sini tentunya kita harus sesuaikan dengan kapasitas mereka yang latar belakang kasus korupsi. Kalau kita paksakan mereka kerja lapangan tentunya tidak maksimal," kata Nanank.

Nanank menjelaskan napi dengan pengalaman profesional dan manajerial didorong menyumbangkan gagasan maupun kemampuan yang dimiliki. Salah satu hasilnya adalah Sukaboat.

"Akhirnya kita dorong adalah pemikiran-pemikiran jenius atau pengalaman mereka untuk membantu mengembangkan program pengembangan warga binaan di dalam lapas," sambung dia.

Nanank menyebut kegiatan pembuatan speedboat kini menjadi salah satu program kerja unggulan Lapas Sukamiskin. Kini Sukamiskin menjadi satu-satunya lapas yang memiliki program bimbingan kerja membuat speedboat.

"Ini sudah ada praktik positifnya, yaitu pengembangan pembuatan kapal cepat atau speedboat. Di Indonesia setahu saya hanya di Sukamiskin saat ini. Dulu pernah ada di Porong, namun kala itu tidak berlanjut. Di sini justru program kerja pembuatan kapal menjadi 'nilai jual' atau unggulan kami," kata Nanank.

Nanank mengatakan produk yang dihasilkan juga mulai mendapatkan respons dari pasar. "Alhamdulillahnya minat pasar sudah ada. Ada yang membeli produk kita bahkan lebih dari 20 unit," tutur dia.

Nanank mengatakan Lapas Sukamiskin memiliki kapasitas 560 penghuni. Berdasarkan data per 19 Agustus, jumlah warga binaan yang menghuni lapas tersebut tercatat sebanyak 429 orang.

Dari jumlah itu, 290 orang merupakan warga binaan perkara korupsi. Sisanya berasal dari berbagai perkara pidana umum, dari narkoba, pencurian, hingga tindak pidana lainnya.

Bagi Nanank, perbedaan latar belakang itu tidak hanya menjadi persoalan dalam menentukan jenis pembinaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan dengan pembagian peran sesuai kemampuan masing-masing, terkhusus dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan Sukaboat juga diarahkan untuk menjangkau sektor perikanan.

"Kalau melihat kembali Asta Cita Bapak Presiden, sektor ketahanan pangan itu bukan hanya pertanian saja. Tapi ada ekonomi biru yang menjadi target Presiden. Nah, pengembangan produk kapal di sini juga menjadi pendukung dari capaian terhadap ekonomi biru, karena ada produk kapal nelayan yang nanti kita akan salurkan ke daerah-daerah ekonomi biru," kata Nanank.

Diberitakan sebelumnya, Lapas Sukamiskin berada di tengah Kota Bandung yang letak geografisnya jauh dari laut atau perairan dalam. Namun lapas ini justru membuka kegiatan bimker pembuatan kapal cepat atau speedboat untuk para napi.

Dua lokasi mirip hanggar difungsikan oleh pihak lapas menjadi galangan speedboat. Para napi dilatih mulai dari proses cetak, amplas, las, pembesian, hingga finishing badan speedboat. Konsep, desain, manajemen produksi hingga pekerjaan teknis dikerjakan napi.

(aud/idn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |