Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bersiap mempercepat pengembangan biofuel sebagai respons atas memanasnya konflik geopolitik global, termasuk perang Iran versus Israel.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyebut, langkah ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kemandirian energi nasional.
"Ini adalah hasil tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden pada saat kita rapat minggu lalu, sebelum beliau bertolak ke Jepang dan Korea Selatan," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Salah satu fokus utama adalah pengembangan E20, yakni campuran bensin dengan 20% etanol yang berasal dari jagung, tebu, dan ubi.
"Mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol campuran bensin 20%. Dari mana? Jagung, ubi, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia," jelasnya.
Amran menegaskan, E20 diproyeksikan dapat menggantikan BBM seperti Pertalite dan Pertamax.
"Ya, itu menggantikan. Itu belum mobil listrik. Tapi itu departemen lain, kementerian lain. Yang kita bahas adalah energi dari biofuel, dari nabati," tegasnya.
Ia juga memastikan ketersediaan bahan baku mencukupi, termasuk dari molase tebu yang selama ini diekspor.
"Bahan baku kita yang kita ekspor. Itu ada 1 juta ton. Itu molase atau tetes tebu. Ini bisa dijadikan dan bisa meng-etanol 300 ribu ton," ucap dia.
Selain E20, pemerintah juga melanjutkan program biodiesel sawit, termasuk target B50 untuk menghentikan impor solar.
"Janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton. Itu tahun ini kita tidak impor. Dan itu selesai," kata Amran.
Menurutnya, situasi geopolitik justru menjadi momentum memperkuat kemandirian energi dan pangan nasional.
"Nah ini kita kencang. Ini ada hikmah. Kondisi geopolitik yang memanas itu ada hikmahnya bagi Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menambahkan, upaya pengurangan impor energi sebenarnya sudah berjalan melalui program biodiesel.
"Ini ada tugas khusus tambahan dan memang sudah direncanakan dari sejak awal sebelum adanya perang, adalah Presiden menginginkan kita mengurangi beban impor energi kita, di mana sudah kita buktikan dengan B40, kita sudah tidak lagi impor solar," kata Sudaryono dalam kesempatan yang sama.
Ia optimistis, kemandirian energi berbasis biofuel bisa segera terwujud.
"Dan Insyaallah yang dinamakan kemandirian swasembada energi ini bukan lagi slogan yang selalu kita dengungkan tapi tidak bisa, tidak pernah kita wujudkan," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google


















































