Aisha Mayra, CNBC Indonesia
15 June 2026 15:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah Asia modern dapat dijelaskan melalui perpindahan tongkat estafet kekuatan ekonomi dari Jepang ke China.
Pada 1995, Jepang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat dengan produk domestik bruto (PDB) nominal mencapai US$5,6 triliun, bahkan lebih besar daripada gabungan seluruh negara Asia di luar Jepang, Afrika, dan Eropa Timur.
Nilai tersebut lebih besar dibanding gabungan seluruh Asia di luar Jepang yang mencapai US$3,9 triliun. Bahkan jika ditambah Afrika dan Eropa Timur yang masing-masing bernilai sekitar US$0,8 triliun, totalnya masih belum melampaui Jepang.
Tiga puluh tahun kemudian, posisi itu sudah tidak ada lagi.
Pada 2025, PDB nominal Jepang berada di kisaran US$4,4 triliun. Angka tersebut lebih kecil dibanding gabungan empat wilayah di China: Guangdong, Zhejiang, Fujian, dan Shanghai.
Puncak Jepang
Pada pertengahan 1990-an, Jepang adalah pusat ekonomi Asia.
Industri otomotif Jepang mendominasi pasar global. Produk elektroniknya menjadi standar dunia. Tokyo identik dengan kekuatan korporasi dan kemajuan teknologi.
Skala ekonominya juga sulit ditandingi.
Dengan PDB mencapai US$5,6 triliun pada 1995, Jepang menghasilkan output ekonomi yang lebih besar dibanding gabungan Asia di luar Jepang, Afrika, dan Eropa Timur.
Bagi banyak negara Asia saat itu, Jepang bukan sekadar tetangga yang lebih maju. Jepang adalah tujuan yang ingin dikejar.
Ketika Jepang Menjadi Kekhawatiran Amerika
Kebangkitan Jepang bahkan memicu kecemasan di Amerika Serikat.
Sepanjang 1980-an, perusahaan Jepang memperluas pengaruhnya di berbagai sektor strategis, mulai dari otomotif hingga semikonduktor. Banyak analis ketika itu melihat Jepang sebagai kandidat paling kuat untuk menantang dominasi ekonomi Amerika.
Washington merespons dengan pembatasan ekspor mobil dan semikonduktor Jepang. Plaza Accord kemudian mendorong apresiasi tajam yen terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya.
Pada masa itu, Jepang lebih sering dibahas sebagai pesaing Amerika daripada sebagai pemimpin Asia.
Dari Tokyo ke Beijing
Setelah gelembung aset pecah pada awal 1990-an, ekonomi Jepang memasuki periode panjang yang kemudian dikenal sebagai Lost Decades.
Pertumbuhan melambat, utang publik meningkat, dan ukuran ekonomi nominalnya tertekan oleh pelemahan yen.
Pada saat yang sama, China sedang bergerak ke arah sebaliknya.
Melalui reformasi ekonomi dan keterbukaan perdagangan, China mencatat pertumbuhan lebih dari 7% per tahun selama bertahun-tahun. Negara itu berkembang menjadi pusat manufaktur dunia dan semakin penting dalam rantai pasok global.
Pada 2010, ekonomi China melampaui Jepang dan menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Jarak tersebut terus melebar sejak saat itu.
Empat Wilayah China
Besarnya perubahan itu terlihat jelas dari data terbaru.
Pada 2025, ekonomi Jepang bernilai sekitar US$4,4 triliun.
Sementara itu, empat wilayah di China menghasilkan:
-
Guangdong: US$2,1 triliun
-
Zhejiang: US$1,4 triliun
-
Fujian: US$0,8 triliun
-
Shanghai: US$0,8 triliun
Jika digabungkan, nilainya mencapai sekitar US$5,1 triliun.
Empat wilayah di China kini menghasilkan ekonomi yang lebih besar dibanding seluruh Jepang.
Angka itu merangkum perubahan keseimbangan ekonomi Asia dalam tiga dekade terakhir.
Asia yang Berbeda
Pada akhir abad ke-20, Jepang menjadi pusat gravitasi ekonomi Asia.
Perusahaan-perusahaan Jepang mendominasi industri otomotif dan elektronik global. Investasi Jepang mengalir ke berbagai negara di kawasan. Banyak pemerintah Asia menjadikan model pembangunan Jepang sebagai acuan.
Hari ini, posisi tersebut ditempati China.
Negara itu kini menjadi pusat manufaktur terbesar dunia, mitra dagang utama bagi banyak negara Asia, sekaligus salah satu sumber investasi paling berpengaruh di kawasan.
Pada 1995, Jepang berdiri jauh di atas Asia. Pada 2025, China berdiri jauh di atas Jepang.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































