Jakarta, CNBC Indonesia - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan kian mencekik Rusia hingga memaksa jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terbesar di ibu kota Moskow memperketat penjualan bensin secara massal. Langkah darurat ini diambil setelah pasokan komoditas energi di dalam negeri dilaporkan terus merosot hingga memicu kepanikan di kalangan masyarakat.
Mengutip laporan UNN yang merujuk pada pemberitaan media lokal Rusia, pembatasan volume pengisian bahan bakar ini kini telah diterapkan secara resmi oleh beberapa raksasa energi pelat merah maupun swasta terbesar di negara tersebut. Selain di wilayah Moskow, pembatasan ketat ini dilaporkan juga telah merembet ke kota terbesar kedua, Saint Petersburg, hingga wilayah Tatarstan.
Kebijakan pembatasan jatah pengisian bahan bakar di lapangan bervariasi tergantung pada regulasi internal masing-masing perusahaan migas. Jaringan SPBU milik Tatneft tercatat menerapkan aturan paling ketat dengan membatasi pembelian bensin jenis AI-92 dan AI-95 hanya sampai maksimal 20 liter saja, serta maksimal 40 liter untuk komoditas bahan bakar diesel atau solar per kendaraan.
Sementara itu, perusahaan minyak raksasa Rosneft menetapkan batas pengisian hingga maksimal 90 liter per tangki atau wadah jeriken. Di sisi lain, jaringan SPBU Lukoil memilih untuk membatasi pembelian tidak lebih dari 100 liter bensin maupun solar untuk setiap satu struk transaksi resmi di kasir mereka.
"SPBU Tatneft di Saint Petersburg telah memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar: hingga 20 liter bensin dan 40 liter bahan bakar diesel per orang. Sebelumnya, pembatasan sebesar 50 liter dilaporkan terjadi di SPBU lain," bunyi salah satu laporan media lokal mengenai situasi kepanikan di lapangan, dikutip Senin (15/6/2026).
Meskipun antrean kendaraan mulai mengular di berbagai wilayah, Komite Energi Saint Petersburg merilis pernyataan resmi yang mengeklaim bahwa saat ini sama sekali tidak ada prasyarat yang dapat memicu kelangkaan sumber daya bahan bakar di wilayah mereka. Pemerintah setempat menyatakan bahwa stok energi nasional masih berada dalam level yang aman untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat.
Langkah pembatasan volume ini juga mulai diadopsi oleh beberapa SPBU di wilayah Republik Tatarstan. Pihak otoritas menegaskan bahwa pembatasan jatah tangki BBM sengaja diberlakukan sebagai langkah preventif demi menjaga stabilitas keamanan energi serta mencegah kepanikan massal di pasar domestik.
"Langkah ini dilakukan untuk menghindari lonjakan permintaan buatan (artificial hype) dan memastikan situasi yang stabil di tengah masyarakat," rilis resmi perwakilan pers dari kantor kepala wilayah Republik Tatarstan mengenai motif di balik pengetatan aturan tersebut.
Krisis pasokan energi ini terbukti tidak lagi menjadi masalah lokal di wilayah barat Rusia semata, melainkan telah meluas menjadi masalah nasional yang sistemik. Rantai kelangkaan bensin dilaporkan telah bergerak masif menembus wilayah pedalaman dingin di Siberia hingga mencapai kawasan paling ujung di Timur Jauh Rusia.
Warga sipil yang menetap di wilayah Khabarovsk Krai kini dilaporkan mulai melayangkan protes keras kepada pemerintah pusat akibat seringnya terjadi gangguan dan keterlambatan pasokan BBM ke SPBU lokal dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat operasional kendaraan logistik dan aktivitas ekonomi warga setempat menjadi sangat terhambat akibat tidak adanya kepastian ketersediaan bahan bakar di pasar lokal.
(tps/sef)
Addsource on Google


















































