Jakarta -
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengungkapkan jumlah Direktorat Reserse Tindak Pidana Perempuan dan Anak/Pidana Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO) di tingkat polda akan ditambah. Penambahan akan dilakukan di sejumlah daerah, mulai Polda Kepulauan Riau (Kepri) hingga Polda Maluku Utara.
Hal itu diungkapkan Komjen Dedi saat acara Bedah Buku Strategi Polri dalam Pemberantasan TPPO di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan (Jaksel), Rabu (21/1/2026). Komjen Dedi menyampaikan sudah berdiskusi dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) atau BP2MI terkait pembentukan Dit PPA-PPO baru di sejumlah wilayah.
"Titik asal pelintas domestik ada di Sumatera Utara, wilayah-wilayah yang sudah kita bentuk Direktorat Reserse PPA/PPO-nya. Ada beberapa Polda yang belum, kami sudah diskusi dengan Wamen (Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/WammenP2MI/BP2MI), ada tambahan (pembentukan Ditres PPA-PP0) nanti untuk Kepulauan Riau (Kepri), Kalimantan Utara (Kaltara), kemudian Bali, Banten, kemudian Maluku Utara (Malut)," jelas Komjen Dedi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Kapolda Kalimantan Tengah (Kalteng) ini menuturkan pembentukan Direktorat Reserse PPA-PPO baru di sejumlah wilayah adalah bentuk mitigasi terhadap kejahatan perdagangan orang. "Ada beberapa polda yang akan kita persiapkan dalam rangka memitigasi secara maksimal terjadinya kejahatan TPPO, ujarnya.
Komien Dedi kemudian menerangkan soal wilayah yang menjadi titik-titik eksploitasi dalam kurun 2020-2023 di Asia Tenggara.
"Dalam simpul korban perdagangan manusia WNI selama 2020-2023, bahwa peta korban WNI di kawasan Asia dalam tiga tahun terakhir ini menunjukkan bahwa pusat-pusat eksploitasi yang menonjol terjadi di Kamboja, Filipina, dengan simpul transitnya di Thailand, Laos, dan Myanmar," ucapnya.
Dia menyebutkan Indonesia dan Filipina memiliki pola berbeda dalam hal perlintasan jaringan TPPO. Hal ini terjadi karena garis pantai kedua negara ini yang terbentang luas sehingga memiliki banyak titik masuk.
"Ada terjadi perbedaan pola (masuk jaringan TPPO), terutama di Indonesia dan Filipina. Ini negara-negara kepulauan yang memiliki garis pantai yang sangat luas, pintu masuknya banyak," pungkas dia.
(knv/knv)


















































