Ketua Komisi III DPR Harap Ketua BEM UGM Ngaku Diteror Bikin Laporan Polisi

2 hours ago 2
Jakarta -

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman berharap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto membuat laporan polisi usai mengaku mendapatkan teror. Habiburokhman menilai laporan polisi dapat jadi jalan aparat untuk menindak pelaku teror tersebut.

"Terkait informasi adanya teror terhadap Ketua BEM UGM kami berharap yang bersangkutan membuat laporan polisi, dan selanjutnya bisa ditindak oleh aparat," kata Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu (21/2/3035).

Habiburokhman menilai teror yang dialami Tiyo bukan berasal di pihak pendukung Presiden Prabowo Subianto. Habiburokhman mengungkapkan pihak pendukung Prabowo juga mengalami hal yang sama dengan Tiyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami pastikan pelaku teror bukan dari pendukung Pak Prabowo. Sebaliknya kami perlu informasikan bahwa saat ini ada beberapa pendukung Pak Prabowo juga mendapat ancaman teror. Saya juga meminta rekan-rekan tersebut juga membuat laporan polisi," ujarnya.

Waketum Partai Gerindra itu menilai ada pihak lain yang berupaya memecah belah masyarakat. Situasi yang tak kondusif dinilai dapat menjadi pintu masuk perpecahan.

"Waspada ada pihak ketiga yang mau mengadu domba bangsa kita. Situasi saat ini bisa saja ada pihak yang ingin memancing di air keruh," imbuhnya.

Tiyo sebelumnya mengatakan terror tersebut terjadi sejak tanggal 9 Februari lalu. Dia mengaku mendapatkan berbagai pesan dari beberapa nomor luar negeri berisi ancaman pembunuhan hingga akan membuka aib.

"Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib," kata Tiyo dilansir detikJogja, Jumat (20/2).

Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2). Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai. Meksi saat itu sempat dikejar, namun para penguntit itu bisa pergi.

"Ada juga pengalaman sempat dikuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja," ujarnya.

(rfs/dhn)


Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |