Jakarta -
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa AS dan Iran sudah "sangat dekat" dengan kesepakatan perdamaian. Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, bicara peluang kesepakatan damai itu bisa terwujud.
"Pertama kita tidak bisa terlalu percaya apa yang disampaikan oleh Trump. Karena pernyataannya sering berubah-ubah," kata Hikmahanto saat dihubungi, Sabtu (18/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hikmahanto kemudian berbicara soal pengembangan senjata nuklir dan pengayaan uranium yang menjadi concern utama Trump. Dia menyebut Iran sejak sebelum perang tentu akan bersedia untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan pengayaan uranium.
"Tinggal masalahnya ada uranium yang sudah diperkaya mau diapakan? Rusia sudah bersedia untuk menerima uranium Iran. Tapi Trump tidak mau kalau Rusia," katanya.
"Nah tinggal Trump maunya seperti apa. Bila bisa disepakati antara Trump dan Iran maka memang semakin dekat kesepakatan damai," tambahnya.
Lalu, hal lain yang membuat kesepakatan damai semakin jauh adalah sabotase dari Israel. Jika Israel terus menyerang Hezbullah, Iran tentu akan memberikan reaksi.
"Kalau kemudian Israel melakukan serangan ke Hezbullah, Hutti atau Hamas tentu ini tidak akan semakin dekat. Pasti ada reaksi dari Iran," katanya.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran sudah "sangat dekat" dengan kesepakatan perdamaian. Trump pun mengatakan bahwa dia akan mempertimbangkan untuk pergi ke Pakistan guna menandatangani kesepakatan tersebut.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menambahkan bahwa Teheran telah setuju untuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, sementara kedua negara mempertimbangkan pembicaraan lebih lanjut di Islamabad, Pakistan.
"Kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran," kata Trump, dilansir AFP dan Al Arabiya, Jumat (17/4/2026).
"Kita harus memastikan bahwa Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir... Mereka sepenuhnya setuju dengan itu. Mereka telah menyetujui hampir semuanya, jadi mungkin jika mereka bisa duduk di meja perundingan, akan ada perbedaan," imbuhnya.
Ketika ditanya apakah ia mungkin akan pergi ke Pakistan untuk menandatangani kesepakatan, Trump menambahkan: "Saya mungkin akan pergi, ya." Jika kesepakatan itu ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi," tuturnya.
Lihat juga Video Trump Pede Perang Lawan Iran Cepat Berakhir: Militer AS Terkuat di Dunia
(azh/idn)


















































