Jakarta -
Lanskap media dan komunikasi publik kini telah berubah begitu cepat. Arus informasi terus mengalir begitu deras: buka ponsel, scroll linimasa, click judul yang memicu penasaran, lalu swipe ke artikel berikutnya, semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Hal itu ditekankan Redaktur Pelaksana detikFinance Angga Aliya ZRF saat membuka sesi NewsCraft+ bertajuk 'Jurnalistik di Era Click, Swipe & Scroll' di The Classroom Batch 3. Kegiatan ini digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama detikcom.
Kegiatan yang berlangsung pada 14-16 Juli 2026 di Wisma PGN Megamendung, Bogor, Jawa Barat, diikuti 36 peserta Tim KLH/BPLH dari unit kerja berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup hingga Direktorat Penegakan Hukum Pidana Lingkungan Hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Angga, media massa kini telah berevolusi dari cetak, online, hingga, media sosial. Jika dulu masyarakat mengandalkan media konvensional atau aplikasi berita arus utama, kini media sosial telah menjadi gerbang utama pencarian informasi.
"Sekarang orang nyari berita nggak cuma dari satu sumber doang. Dulu orang nyari berita baca di koran, buka di aplikasi detik (online), sekarang nyari di mana-mana, termasuk di media sosial Instagram dan TikTok," ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Hal ini memicu 'ledakan informasi' yang diterima oleh masyarakat. Satu sisi masyarakat mendapat kemudahan dalam mengakses informasi di media sosial, di sisi lain tak semua informasi yang diterima dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Sekarang itu (terjadi) ledakan informasi, semakin susah orang mencari informasi yang kredibel ... sehingga muncul pertanyaan ke depan apakah media massa ini akan masih ada setelah adanya media sosial ?" ungkapnya.
The Classroom Batch 3 Foto: dok. detikcom
Angga menegaskan bahwa media massa tidak akan hilang. Keduanya justru saling melengkapi, di mana media sosial bertindak sebagai jembatan distribusi bagi media massa yang informasinya lebih kredibel.
"Jadi sampai kapanpun media massa akan tetap ada, hanya bentuknya yang berubah, karena pada akhirnya media sosial menjadi medium untuk mengantarkan informasi dari media massa," jelasnya.
Kendati begitu, kata dia, perbedaannya kini editor di media massa tidak lagi sepenuhnya berwenang dalam menentukan apa yang harus dibaca oleh publik. Sekarang pembaca yang memegang kendali penuh atas informasi yang mereka inginkan.
"Zaman dulu itu namanya editor-driven, artinya, editor menentukan berita mana yang harus dibaca masyarakat. Menurut editor ini layak halaman satu, zaman sekarang itu udah nggak berlaku. Zaman sekarang pindah ke audience-driven, artinya apa, kita harus bisa ngasih informasi, yang dipengen sama netizen," jelasnya.
Pergeseran fokus ke audience ini berdampak langsung pada siklus sebuah berita atau konten viral. Jika dulu sebuah isu bisa hangat dibicarakan hingga berbulan-bulan, kini durasinya semakin pendek.
"Kalau diperhatiin ini sama kaya siklus viral, zaman dulu, satu bulan dua bulan masih ngomongin (isu) yang sama, apalagi awal-awal dulu bisa sampai satu tahun tuh, zaman-zaman video sebelum TikTok. Makin ke sini makin pendek, makanya minggu ini viral, minggu depan udah beda lagi yang viral," terangnya.
Di tambah lagi, kata dia, tantangannya saat ini adalah bagaimana menembus sistem kerja algoritma media sosial yang membatasi minat pengguna dalam gelembung (bubble) informasi masing-masing.
"Karena ini berbasis algoritma, masing-masing orang hidup dalam bubble nya sendiri, misalkan saya suka basket, munculnya itu lagi itu lagi, saya jarang buka tentang lingkungan mungkin nggak akan muncul tentang lingkungan. Ini jadi tantangan juga untik kita gimana caranya, orang yang punya bubble ini bisa dimasukin informasi kita," terangnya.
Menulis dari Nol hingga Manajemen Krisis
Menyikapi kondisi ini, Angga menekankan pentingnya kemampuan menulis berita yang mampu menarik perhatian. Tim KLH/BPLH diminta untuk menulis berdasarkan news value dan berpegang pada unsur 5W+1H. Selain itu, bahasa yang digunakan harus sederhana dan mudah dipahami.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang lebih banyak fokus pada teori dan bedah teks, The Classroom Batch 3 ini dirancang dengan metode pelatihan yang jauh lebih taktis dan aplikatif.
"Jadi di materi yang sekarang masih soal nulis berita, terus ada juga sedikit tentang manajemen krisis komunikasi, cuman penekanannya sekarang adalah di pelatihannya, ketika kemarin itu kita hanya membedah siaran pers, kalau sekarang beneran mulai dari nol," jelasnya.
Para peserta dari Tim KLH/BPLH juga dituntut mempraktikkan langsung proses produksi berita secara utuh dari awal, menyaring arahan kebijakan pimpinan menjadi materi siap konsumsi publik. Melalui simulasi ini, tim KLH/BPLH diharapkan memiliki refleks komunikasi yang cepat dan strategis, terutama saat menghadapi krisis atau isu di lapangan.
"Yang diharapkan mereka bisa lebih cepat mengambil keputusan, ketika ingin memproduksi sebuah konten, siaran pers apapun itu dalam bentuk komunikasi, diharapkan mereka udah bisa menentukan kejadian ini masuk level krisis atau masih issue kecil dan juga bisa menyusun strategi-strategi yang dibutuhkan kementerian dalam situasi tertentu," ungkapnya.
The Classroom Batch 3 Foto: dok. detikcom
Produksi Konten Audio Visual
Selain membekali peserta dengan kemampuan menulis berita dan manajemen krisis, The Classroom Batch 3 juga menaruh perhatian pada aspek produksi konten audio-visual lewat CreativeHub+. Materi sesi kedua ini dikupas oleh Head of Brandstudio detikcom, Okta Marfianto.
Menurut Okta, kesalahan yang paling sering terjadi di lapangan dalam proses video kreatif adalah melompati fase perencanaan dan langsung terjun ke proses syuting. Hal ini sering kali membuat tim kehilangan arah saat berada di lokasi pengambilan gambar.
"Di mana mereka harus tahu, mereka mau buat apa, proses penggodokan dari story line itu seperti apa, jadi karena memang biasanya kan, kalo kita buat video pasti produksi ini yang paling sering lupa gitu kan, kita langsung liputan, langsung syuting segala macam, pas ada di lokasi, jadi lupa, atau mereka gatau apa yang harus mereka lakukan, makanya di batch ketiga ini aku menekankan ke proses pra produksi, gimana mereka membuat ide, gimana idenya bisa muncul, apa sih step-step-nya apa sih yang harus diperhatikan dari pembuatan storyline itu, proses produksi itu seperti apa," terangnya.
Untuk memudahkan pemahaman para peserta dari Tim KLH/BPLH, Okta menganalogikan alur pembuatan video mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi seperti proses menyajikan hidangan oleh seorang juru masak. Ketiga tahapan ini merupakan satu kesatuan utuh yang saling menentukan kualitas hasil akhir.
"Terpenting sebenarnya bagaimana kita bisa memahami step by step proses pembuatan video, mulai dari pra, produksi, dan pasca produksi itu sebenarnya 3 line sama-sama penting ya, kalau dianalogikan, kaya juru masak ya, pra production masak apa, kita planning dulu apa yang kita masak, produksi kita beli bahan-bahannya seperti apa, gimana caranya kita bijak dalam memilih bahannya, dan terus post production gimana caranya juru masak membuat hidangan yang enak dan end of the day kita bisa merekomendasikan ke khalayak banyak," ungkapnya.
Melalui analogi dan pendalaman materi ini, diharapkan Tim KLH/BPLH ke depan tidak sekadar mengambil gambar, melainkan mampu merancang sebuah karya visual yang memiliki pesan kuat dan mampu menyentuh audiens secara tepat.
"Ini sebenarnya aku mau menekankan aja, harapan aku besar terhadap pentingnya ketiga proses ini, kenapa lebih detail karena biar bisa tahu dan paham ketika mereka bisa membuat sebuah video," tegasnya.
The Classroom Batch 3 Foto: dok. detikcom
Peningkatan Kapasitas dan Sinergi Internal KLH/BPLH
Sementara itu, Kapokja Pusat Informasi dan Data KLH/BPLH Hadi Winanto memaparkan perkembangan dan manfaat yang diperoleh para peserta selama mengikuti rangkaian kelas ini. Sebagai kementerian yang kini berdiri mandiri, peningkatan kapasitas komunikasi menjadi agenda yang sangat krusial.
"Kami melihat di tiga batch ini manfaat komunikasi kami, kebetulan kami ini baru kan KLH baru berpisah dengan Kehutanan memang membutuhkan peningkatan kapasitas. Terlihat ketika teman-teman yang sudah mengikuti pelatihan ini berada di tengah masyarakat mereka lebih percaya diri dan lebih membaur dengan masyarakat," ungkapnya.
Di tengah gempuran era digital, Hadi juga menekankan pentingnya bagi para staf untuk menguasai gaya komunikasi kekinian agar pesan-pesan mengenai lingkungan hidup dapat diterima dengan baik oleh publik luas.
"Karena perkembangan zaman saat ini kita komunikasi itu tidak hanya langsung tapi digital juga, sehingga kita tahu istilah istilah dan bahasa bahasa yang perlu disesuaikan dengan kondisi sehingga memang perlu peningkatan dalam komunikasi ini," tuturnya.
Selain berdampak pada kemampuan individu dalam berkomunikasi dengan publik, pelatihan ini juga memicu dampak positif secara internal. Sinergi dan aliran informasi antar-unit kerja di dalam KLH/BPLH kini menjadi jauh lebih lancar.
"Salah satu hal yang paling krusial adalah komunikasi antar unit di kementerian lingkungan hidup, mungkin akan lebih meningkat saling berhubungan terbangunnya komunikasi di antara, unit kerja terutama di humas ketika perlu informasi dokumentasi dari unit tadi kami akan lebih mudah mengumpulkan dan mengoleksi,"
Terakhir, Hadi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para mitra kolaborator. Ia berharap program ini dapat terus berlanjut dengan skala yang lebih besar di masa mendatang.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada detik dan PGN untuk mendukung kegiatan ini, karena memang terus terang dari 3 batch ini, peserta dari kami mengalami peningkatan, mudah-mudahan nanti tahun depan kalau memang di izinkan oleh negara mungkin kami akan pesertanya lebih banyak lagi," pungkasnya.
(prf/ega)


















































