PSI Bela Jokowi, Ungkit JK Kalah Saat Calonkan Anies dan Nyapres di 2009

21 hours ago 2
Jakarta -

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus membela Joko Widodo (Jokowi) yang disebut bisa jadi Presiden karena peran Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK). Bestari Barus justru mengungkit rekam jejak JK.

Bestari Barus awalnya mengaku terkejut atas pernyataan JK. Ia mengatakan JK tidak pernah se-emosional ini.

"Ya, saya juga baru tahu. Ya gimana ya, saya kaget aja gitu kan. Pak JK itu kan seorang negarawan yang saya tidak pernah apa ya, melihat beliau se-emosional begitu menyikapi persoalan-persoalan. Biasanya itu Pak JK itu orangnya lemah lembut, nggak tahu sekali ini kenapa gitu ya," kata Bestari Barus saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bestari lalu menyampaikan bahwa pencalonan bukan persoalan perorangan. Menurutnya, ada peran berbagai pihak, termasuk partai politik.

"Ya saya kira ini ya, itu sebagaimana siapa yang dicalonkan itu kan bukan perorangan ya, tapi lebih kepada peserta pemilunya kan partai politik pengusung secara bersama-sama," ucap dia.

"Nggak satu-dua orang. Satu-dua orang itu mungkin ada yang kemudian mempromosikan, ada kemudian membentuk tim-tim pemenangan dan seterusnya. Ya saya kira banyak orang yang berperan ketika itu ya partai-partai pengusung gitu ya," lanjutnya.

Namun, ia tidak masalah jika JK merasa punya peran besar terhadap pencalonan Jokowi. Ia menghargai itu.

"Ya kalau pun Pak JK merasa bahwa beliau punya peran ya patut kita hargailah sebagai senior politik berperan melahirkan apa namanya kesepakatan untuk mendukung Pak Jokowi beserta dirinya untuk menjadi presiden dan wakil presiden ya itu kan sesuatu yang baik sebetulnya," ujar dia.

Meski begitu, Bestari juga mengungkit momen-momen JK di kontestasi Pilpres sejak 2009. Ia menyebut JK kalah saat Pilpres 2009 lalu kalah saat menyatakan dukungan terhadap Anies Baswedan pada 2024 kemarin.

"Siapa mendukung siapa itu biasa, tapi siapa yang mendapat dukungan rakyat itu lah yang menang, di momen saat pencalonan Anies kemarin dan 2009 saat melawan Pak SBY itu kalah juga," tuturnya.

Ia menekankan kemenangan seseorang dalam pilpres bergantung pada sosok yang diterima oleh rakyat.

"Jadi yang diterima rakyat itu adalah kalau waktu berpasangan sama Pak SBY ya SBY yang diterima rakyat, saat berpasangan dengan Jokowi, Jokowi yang diterima rakyat, pada saat (JK) pasangan dengan si anu (Wiranto) kan nggak diterima rakyat, akhirnya nggak terpilih," sebut dia.

Seperti diketahui, Jusuf Kalla mengeluarkan kekesalannya atas tuduhan Rismon Sianipar yang mengatakan dirinya mendanai kasus ijazah Jokowi. JK pun mengingatkan perannya di balik karier Jokowi hingga menjadi Presiden ke-7 RI.

Pernyataan ini disampaikan JK ketika dia ditanya perihal adanya laporan polisi mengenai video ceramahnya tentang 'mati syahid' di UGM. Dalam kesempatan itu, dia sempat mengatakan Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI karena dirinya.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya," tegas JK.

Penjelasan Jubir JK

Sementara itu, Jubir JK, Husain Abdullah, menjelaskan alasan JK menyampaikan perannya di balik Jokowi jadi Presiden. Husain Abdullah awalnya menyebut pernyataan JK itu disampaikan lantaran kerap dituding tidak tahu terima kasih kepada Jokowi yang menjadikannya wapres pada 2014 lalu.

"Penjelasan Pak JK yang sempat disampaikan dengan nada tinggi, untuk meyakinkan loyalis Jokowi yang kerap menarasikan JK tidak tahu balas budi padahal sudah diangkat jadi Wapres oleh Jokowi. Tidak punya rasa terima kasih kepada Jokowi. JK tidak juga emosi. Tapi sudah lama JK menahan diri tidak buka-bukaan soal ini," kata Husain saat dihubungi, Minggu (19/4).

Ia mengatakan JK terpaksa mengungkap perannya, khususnya terkait pencalonan Jokowi di Pilgub DKI Jakarta pada 2012 lalu. Ia menyebut JK berperan atsas majunya Jokowi di panggung Ibu Kota.

"Akhirnya JK pun terpaksa mengungkapkan perannya, bagaimana dia mengantarkan Jokowi ke Ibu Mega agar dicalonkan jadi Gubernur DKI. JK sadar bahwa kemudian saat kontestasi Pilpres telah berproses, banyak pihak kemudian yang terlibat. Tapi awal mula Jokowi dipromosikan ke Ibu Mega 'manggung' di Ibu Kota sebagai calon Gubernur DKI, tidak lepas dari peran yang dilakonkannya," ucap dia.

Husain menyampaikan nasib Jokowi mungkin akan berbeda jika tidak pernah berkiprah di Jakarta. Menurutnya, Jokowi mendapatkan peluang maju di Pilpres 2014 karena menjadi Gubernur DKI Jakarta.

"Jadi yang disampaikan JK adalah ketika langkah awal Jokowi berkiprah di Jakarta yang membuka pintu bagi Jokowi kemudian menjadi Presiden RI. Tanpa ini, kemungkinan nasibnya beda lagi. Sebab sesudah jadi Gubernur, selanjutnya, Jokowi dicalonkan jadi Presiden oleh Ibu Mega," jelasnya.

"Tapi saat itu, Ibu Mega tidak bersedia mengesahkan pencalonan Jokowi kalau bukan JK sebagai wakilnya. Sebab Jokowi dianggap belum berpengalaman sekalipun elektabilitasnya tinggi untuk bersaing dengan Prabowo. Maka jadilah Pak JK sbg Wapres Jokowi," lanjutnya.

Husain menegaskan bukan Jokowi yang menetapkan JK menjadi pasangannya. Dia memastikan itu atas permintaan langsung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Catatan pentingnya di sini, bukan Jokowi yang menetapkan JK sebagai pasangannya, melainkan langsung atas permintaan Ibu Mega selaku Ketua Umum PDIP kepada JK agar mendampingi Jokowi (yang dianggapnya belum berpengalaman pada saat itu). Sekali lagi, Ibu Mega tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi kalau tidak berpasangan dengan M. Jusuf Kalla. Jadi siapa sebenarnya yang berhutang budi? Apalagi sepanjang pemerintahan mendampingi Jokowi, dalam beberapa moment krusial JK kerap pasang badan buat Jokowi," tuturnya.

Saksikan Live DetikPagi:

Tonton juga video "PSI Benarkan Akan Ada Kader NasDem Gabung Partainya"

(maa/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |