Jakarta -
Kementerian Kebudayaan RI (Kemenbud) melalui Museum dan Cagar Budaya serta Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) menyelenggarakan Kirab Pusaka Nusantara Tahun 2026 di Kawasan Borobudur, Jawa Tengah (Jateng).
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Keris Nasional dan Hari Warisan Dunia, sekaligus menjadi upaya memperkuat pelestarian budaya sebagai warisan hidup (living heritage).
Kirab Pusaka Nusantara menjadi ruang ekspresi budaya yang mempertemukan tradisi, pusaka, dan partisipasi aktif masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melibatkan perwakilan dari 20 desa penyangga kawasan Borobudur, kegiatan ini mencerminkan peran penting masyarakat dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya.
Sebagai salah satu situs Warisan Dunia, Borobudur tidak hanya memiliki nilai sejarah dan arkeologis, tetapi juga menjadi pusat interaksi budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Menbud Fadli Zon dalam sambutannya, menyampaikan antusiasmenya karena kirab ini merupakan pertama kali yang pernah dilakukan di kawasan Candi Borobudur, dan melibatkan semua stakeholder yang terkait dengan warisan budaya dari kalangan budayawan, seniman, dan juga 20 desa yang berada di sekitar wilayah Borobudur, dan bahkan dari luar Kota Magelang.
Selanjutnya, Fadli menyampaikan di tengah posisi Borobudur sebagai ikon peradaban dan destinasi wisata global, penyelenggaraan kirab ini menegaskan bahwa kekuatan kawasan Borobudur, tak hanya terletak pada kemegahan candinya.
Tapi juga pada pusaka tradisi, nilai luhur, ritual, seni, adat istiadat, dan ingatan kolektif yang masih dijaga oleh masyarakat.
"Mudah-mudahan (ke depannya) kita bisa menyelenggarakan lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan budaya, karena Borobudur ini juga merupakan living heritage. Kegiatan-kegiatan keagamaan, budaya merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia," harap Fadli, dalam keterangan tertulis, Senin (19/4/2026).
"Kita berharap dengan hadirnya Candi Borobudur yang semakin baik pelayanannya, semakin dikenal, semakin ramah terhadap disabilitas, ramah terhadap mereka yang senior, dan tentu saja dari berbagai latar belakang," sambungnya.
Menurut Fadli, semangat gotong royong yang luar biasa dari masyarakat dari 20 desa di Borobudur ini menjadi penting.
"Kita harapkan semangat gotong royong yang kita saksikan hari ini bisa kita teruskan untuk memajukan kita bersama. Keberadaan Candi Borobudur harus kita rasakan bersama, termasuk manfaatnya bagi masyarakat di sekitar Borobudur dan juga masyarakat luas di seluruh Indonesia," ucap Fadli.
Kirab Pusaka Nusantara diselenggarakan dengan partisipasi sekitar 1.000 peserta, yang melibatkan perwakilan desa dan komunitas budaya.
Kegiatan diawali dari Gerbang Beringin, dilanjutkan dengan kirab budaya membawa pusaka menuju Pelataran Kenari. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa lintas agama dan ritual budaya, serta penyerahan bibit konservasi sebagai simbol keberlanjutan pelestarian.
Acara ditutup dengan kegiatan kenduri atau makan bersama (umbul bojono), yang mencerminkan nilai kebersamaan dan harmoni.
Kirab Pusaka Nusantara 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya bangsa, sekaligus menghadirkan pengalaman budaya yang autentik di Kawasan Borobudur.
Melalui kegiatan Kirab Pusaka Nusantara, Kemenbud berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya, sekaligus memperkuat posisi Borobudur sebagai destinasi budaya dunia.
Partisipasi aktif masyarakat desa penyangga diharapkan menjadi pondasi utama dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya, serta mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai informasi, kegiatan ini turut dihadiri oleh Bupati Magelang Grengseng Pamudji; Wakil Bupati (Wabup) Magelang Sahid; Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan; Staf Khusus (Stafsus) Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono; Stafsus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda; Direktur BKMA Sjamsul Hadi; Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori; Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko; Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin; Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur Febrina Intan; dan Masyarakat Perkerisan dari Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI).
(akd/ega)


















































