Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan, Indonesia sudah mengalami berbagai macam krisis. Mulai dari krisis ekonomi, politik, kepercayaan, ideologi, krisis pusat daerah, hingga krisis pemberontakan, komunisme, termasuk krisis global.
Tetapi, krisis-krisis yang menghantam bangsa Indonesia, sejak dahulu hingga kemarin-kemarin, selalu berhasil diselesaikan dengan baik berkat adanya pengamalan ideologi dan dasar negara Pancasila.
Karena itu, menurut HNW, potensi krisis yang bisa timbul akibat perang Amerika-Israel dengan Iran, bukan ancaman yang sama sekali baru pertama dihadapi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambah, hal ini bisa dilalui bangsa Indonesia dengan baik apabila mereka benar-benar melaksanakan ideologi Pancasila.
HNW menegaskan keberadaan Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa menjadikan Indonesia tetap utuh dan berkali-kali luput dari perpecahan.
Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan yang juga beragam baik agama, ras, suku bangsa, budaya dan bahasa, dan rentan terhadap perselisihan hingga perpecahan.
"Tetapi karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia. Bahkan sejak dari penyusunannya tokoh agama Islam, seperti Abdul Kahar Muzakir, H Agus Salim, dan Wachid Hasjim dan Kristiani seperti AA Maramis, terlibat langsung dalam Panitia 9 menyusun penyusunan Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan UUD 1945," ungkap HNW, dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).
"Dan demi kesatuan negara dan keselamatan bangsa, para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta, sesuai keberatan masyarakat Indonesia Timur, dan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti yang terdapat pada sila pertama Pancasila," sambungnya.
Pernyataan itu disampaikan HNW saat menjadi narasumber pada Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara, kerja sama MPR RI dengan DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Bangka Belitung (Babel).
Acara tersebut berlangsung di Pangkalpinang, Babel, Sabtu (18/4). Tema yang dibahas dalam acara ini yaitu 'Mengokohkan Ketahanan Nasional dalam Menghadapi Krisis Melalui Nilai-nilai Pancasila'.
Menurut HNW, kesepakatan terhadap hadirnya Pancasila, itu membuat bangsa Indonesia mampu menghadapi berbagai krisis baik yang datang dari dalam maupun luar. Berbeda dengan Uni Soviet.
Pada zamannya, Uni Soviet adalah negara terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Uni Soviet memiliki angkatan bersenjata dan intelijen yang kuat.
Tetapi kini negara itu kini telah lenyap, terpecah menjadi 15 negara, dengan Rusia sebagai negara paling besar diantara 14 negara lainnya.
Uni Soviet hancur dan terpecah belah sejak 1991 akibat krisis ekonomi kronis dan kegagalan reformasi politik (Glasnost dan Perestroika) karena ideologi mereka; komunisme, diimpor dari luar, tidak mengakar di bumi mereka.
Nasib serupa juga dialami Yugoslavia, negara yang saat jayanya terdiri dari lima etnis dan tiga agama besar. Saat ini, Yugoslavia sudah terhapus dari peta dunia digantikan tujuh negara merdeka.
Di antaranya, Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Makedonia Utara, dan Kosovo. Yugoslavia pecah akibat konflik antar etnis dan meningkatnya nasionalisme kedaerahan.
Meski krisis akan terus terjadi, termasuk ketika Amerika dan Israel menyerang Iran, HNW percaya bangsa dan negara Indonesia akan tetap bertahan.
Oleh karenanya, HNW mengajak umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya dengan keteladanan pemimpinnya, untuk terus mengawal Pancasila, dengan menerapkan semua sila silanya dalam kehidupan dan kebijakan sehari-hari.
"Indonesia adalah negara kepulauan, lebih dari 17.000 pulau, 700 lebih suku bangsa, dan enam agama resmi. Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi," ungkap HNW.
"Tapi kita tetap kokoh dan kuat karena mempunyai ideologi yang menyatukan kita semua. Ideologi ini tumbuh dari dalam, digali secara bersama-sama oleh komponen bangsa, baik tokoh nasional yang berlatar belakangkan organisasi kebangsaan, partai maupun profesi tapi juga melibatkan tokoh-tokoh umat Islam dari latar belakang ormas maupun orpol," sambungnya.
HNW menuturkan tokoh-tokoh tersebut, dari Muhammadiyah ada KH Kahar Muzakir, Ki Bagus Hadi Kusumo dan KH Mas Mansur. Sementara dari Nadhlatul Ulama (NU) ada KH Wahid Hasyim, KH Masykur, dan KH Hasyim Asy'ari.
Dari Persatuan Umat Islam (PUI) ada KH Abdul Halim, KH Anwar Sanusi, dan Mr Syamsudin. Sementara, Partai Syarikat Islam (PSI) ada Haji Abi Kusno Cokrosuyoso.
Kemudian, dari Partai Islam Penyandar Haji Agus Salim, dan dari Masyumi yaitu Muhammad Nasir. Mereka bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.
Sukses Pancasila mengamankan persatuan kesatuan Indonesia, kata HNW, sudah berlangsung lebih dari 80 tahun. Selama itu Pancasila menjadikan bangsa Indonesia tahan terhadap beragam masalah dan krisis.
"Apalagi krisis yang sekarang terjadi masih berbentuk naiknya harga BBM, plastik dan kedelai. Jangan lupa, warga Indonesia itu pintar. Tidak menaikkan harga kedelai tidak menaikkan harga tempe, tapi bentuk tempenya saja diperkecil," kata politisi PKS Dapil Jakarta II tersebut.
"Artinya, kita mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah. Partai Politik, apalagi Partai Islam hendaknya menjadi garda terdepan menghadapi dan mengatasi krisis ini. Menyatukan bangsa dengan Pancasila-nya, karena sejak dari dulu Partai Islam itu berada di garda terdepan menyelesaikan permasalahan bangsa supaya keluar dari krisis-krisisnya," sambungnya.
Kontribusi tokoh Islam dalam penyusunan Pancasila, kata HNW terbukti dengan masuknya ungkapan-ungkapan dalam Al-Qur'an dan hadis ke dalam sila sila Pancasila.
Istilah itu antara lain, adil (keadilan) dan rakyat (kerakyatan). Keduanya bukan berasal dari Bahasa Melayu, melainkan dari ungkapan khas Al-Qur'an dan hadis yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia.
HNW menegaskan selain itu ketika Belanda memecah belah RI dan merubah Indonesia menjadi RIS, fakta sejarah terbukti tokoh dari Partai Islam Masyumi lah yang berjasa mengembalikan bentuk Negara Indonesia kembali menjadi NKRI melalui Mosi Integral Natsir, 3 April 1950.
HNW mengatakan kalau itu tidak terjadi, barangkali generasi muda tidak mengenal NKRI. Dan yang menjadikan NKRI sebagai harga mati.
"Kalau dahulu tokoh-tokoh Islam berperan aktif menjadi kelompok yang memberikan solusi terhadap krisis dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam hingga partai Islam tidak dipinggirkan, melainkan dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah," kata HNW.
(anl/ega)
















































