Diskusi di UGM Digeruduk, Kabakom: Demokrasi Itu Kalau Ada Dialog

5 hours ago 3
Jakarta -

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) RI Muhammad Qodari merespons acara diskusi yang dihadiri Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Wamentan Sudaryono, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di Universitas Gadjah Mada (UGM) berujung digeruduk mahasiswa. Qodari menegaskan dialog wajib dikedepankan dalam praktik negara demokrasi.

"Yang namanya demokrasi itu bisa terjadi kalau ada dialog. Kalau tidak ada dialog, hanya tuntutan, kan bukan demokrasi namanya. Itu namanya semua gue, maunya dia saja," kata Qodari, dalam keterangannya, (17/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun acara diskusi tersebut digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (15/6) malam. Di tengah diskusi, datang sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk penolakan yang membuat acara diskusi menjadi bubar.

Qodari melihat adanya anomali dari peristiwa tersebut. Sebab, menurutnya, sebagian mahasiswa merestui bahkan diketahui otoritas kampus.

"Jadi sebetulnya kan ada anomali di situ, ada interupsi," ujar Qodari.

Qodari menilai adanya penolakan dari mahasiswa itu bentuk amarah semata. Ia bicara pentingnya dialog yang juga merupakan bagian dari demokrasi.

"Saya kira dialog itu, ya, dijawab dengan dialog yang lain, kan tidak susah. Saya kira itu jawaban yang paling proporsional. Kalau kita bicara mengenai demokrasi dan bicara mengenai dialog," kata Qodari.

Alasan Mahasiswa Geruduk

Diketahui, ramai mahasiswa menggeruduk acara diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (15/6) malam. Peristiwa itu juga sempat diwarnai aksi kejar-kejaran.

Adapun aksi itu dilakukan saat forum yang dihadiri Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono tengah berlangsung.

Mulanya, acara diskusi berjalan lancar. Namun, tak berselang lama, sejumlah mahasiswa naik ke panggung dan membentangkan spanduk penolakan terhadap para pembicara.

Situasi memanas hingga diskusi dihentikan dan terjadi pelemparan gelas plastik. Ketiga pejabat kemudian dievakuasi, namun ratusan mahasiswa menghadang mereka di luar GIK UGM.

Nusron Wahid dan Sudaryono sempat berdialog dengan massa, tetapi pembicaraan kembali buntu. Saat keduanya meninggalkan lokasi dengan pengawalan, sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas.

Salah satu perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah. Mereka menilai selama pemerintah menganggap kritik sebagai gangguan, maka para pejabat tidak layak berbicara Pancasila.

"Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat, program MBG, Kopdes Merah Putih, dan banyak hal yang sekarang terjadi," kata Mesa dilansir detikJogja, Selasa (16/6).

Lihat juga Video 'Terima Perwakilan Massa Aksi, Gibran: Saya Senang Mahasiswa Kritis':

(eva/amw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |