China Dilanda PHK, Jutaan Pekerja Kantoran Turun Kelas Jadi Kurir

9 hours ago 1

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

13 July 2026 21:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi gig kini menjadi penyangga utama pasar tenaga kerja China di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda berbagai sektor.

Namun, meningkatnya jumlah pekerja fleksibel dengan pendapatan yang tidak menentu turut menekan konsumsi domestik. Di sisi lain, rendahnya kepesertaan dalam program jaminan sosial memperbesar risiko kesejahteraan di masa depan, sementara pasar yang semakin jenuh membuat pendapatan pengemudi transportasi daring dan kurir pengantar makanan terus tertekan.

Lebih dari 84 juta warga China diperkirakan bekerja di sektor gig economy pada 2025. Jumlah itu terus bertambah di tengah melambatnya pasar tenaga kerja formal dan menjadi salah satu penopang utama ekonomi digital negara tersebut.

Di saat yang sama, pengangguran usia muda masih menjadi tantangan dan jutaan lulusan baru setiap tahun harus bersaing memperebutkan pekerjaan tetap.

Bagi perusahaan platform, pertumbuhan ini menunjukkan besarnya peluang ekonomi digital. Namun bagi banyak pekerja, menjadi pengemudi ride-hailing, kurir makanan, atau pekerja lepas bukan lagi pilihan karier, melainkan pilihan yang tersisa.

Ekonomi Gig Jadi Jaring Pengaman China

Para analis menilai ekonomi gig telah menjadi penyangga penting bagi pasar tenaga kerja China di tengah krisis properti yang menghapus banyak pekerjaan di sektor konstruksi, sementara industri manufaktur terus memangkas tenaga kerja akibat otomatisasi, efisiensi biaya, tarif perdagangan, kelebihan kapasitas produksi, dan perang harga.

Kini, sektor tersebut juga semakin banyak menyerap lulusan perguruan tinggi dan pekerja kantoran yang terdampak lemahnya permintaan domestik serta adopsi kecerdasan buatan (AI).

"Proporsinya sangat besar. Fenomena ini tidak lagi terbatas pada pekerja migran dari pedesaan, tetapi telah meluas ke kelas menengah dan lulusan universitas." kata Yang Zhan, pakar antropologi budaya dari Hong Kong Polytechnic University kepada Reuters.

Menurutnya, transformasi industri manufaktur China menyebabkan banyak sektor padat karya mulai ditinggalkan. Di sisi lain, perkembangan AI turut mempersempit peluang kerja.

Lonjakan pekerja gig tidak hanya mencerminkan berkembangnya layanan digital. Di baliknya, pasar kerja China juga sedang berubah.

Pusat riset China New Employment Forms Research Center memperkirakan jumlah pekerja fleksibel - atau mereka yang harus bekerja tanpa kontrak kerja penuh waktu-akan mencapai 320 juta orang pada 2026, naik dari sekitar 280 juta pada 2025. Artinya, hampir 44% angkatan kerja China kini bekerja tanpa kontrak penuh waktu.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi platform semakin berperan sebagai "penyerap" tenaga kerja ketika sektor lain melemah.

Analis menilai kondisi ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, antara lain:

  • krisis berkepanjangan di sektor properti yang memangkas lapangan kerja konstruksi,

  • otomatisasi dan efisiensi di sektor manufaktur,

  • lemahnya permintaan domestik,

  • serta mulai meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sejumlah pekerjaan kerah putih.

Dengan kata lain, gig economy tumbuh bukan semata karena permintaan terhadap layanan digital meningkat. Pasokan tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan formal juga terus bertambah.

Cerita Bao Zhang menggambarkan perubahan tersebut. Pria berusia 30 tahun itu kehilangan pekerjaannya sebagai software tester awal tahun ini.

Kini ia mengemudikan mobil untuk aplikasi ride-hailing di Beijing mulai pukul 07.00 hingga hampir tengah malam demi memperoleh sekitar 6.000 yuan per bulan setelah dikurangi biaya sewa kendaraan dan pengisian daya.

"Orang-orang yang dulu naik taksi sekarang justru harus menyetir taksi sendiri," katanya.

Kisah seperti Bao tidak lagi menjadi pengecualian. Semakin banyak lulusan perguruan tinggi dan mantan pekerja kantoran masuk ke ekonomi platform karena peluang kembali ke pekerjaan formal semakin sempit.

Bekerja, Tapi Tidak Selalu Terlindungi

Di balik fleksibilitas yang ditawarkan, pekerjaan di ekonomi platform juga membawa konsekuensi yang tidak kecil.

Banyak pekerja gig tidak menikmati perlindungan yang lazim diterima pekerja formal, mulai dari jaminan pensiun hingga asuransi kesehatan. Karena sebagian besar bekerja tanpa kontrak tetap, kepesertaan dalam sistem jaminan sosial juga masih rendah.

Laporan pemerintah China pada Desember 2025 menunjukkan bahwa hingga akhir 2024 hanya sekitar 70,6 juta pekerja fleksibel yang tercatat mengikuti skema pensiun pekerja perkotaan. Padahal jumlah pekerja fleksibel secara keseluruhan sudah mencapai ratusan juta orang.

Survei Peking University terhadap sekitar 30.000 kurir makanan juga menemukan kurang dari 10% responden mendukung kewajiban iuran jaminan sosial. Bagi pekerja, iuran tersebut dinilai cukup berat karena dapat memangkas sekitar 10% pendapatan, sementara perusahaan harus menanggung tambahan biaya sekitar seperempat dari gaji pekerja.

Pendapatan 16 juta kurir makanan naik rata-rata 11% pada 2025, tetapi upah 37,2 juta pengemudi transportasi daring justru turun 1,8%.

Masalah yang paling sering muncul di ekonomi platform antara lain:

  • pendapatan yang tidak selalu stabil,

  • perlindungan sosial yang terbatas,

  • jam kerja yang panjang,

  • penghasilan yang sangat bergantung pada banyaknya pesanan.

Beban Fiskal Meningkat

Beban pemerintah untuk menutup defisit jaminan sosial terus membengkak. Menurut Gavekal Dragonomics, transfer pemerintah pusat hampir tiga kali lipat dalam satu dekade menjadi sekitar CNY 3 triliun, atau sekitar 10% dari total belanja negara.

Namun, pemerintah menilai membebankan iuran tambahan kepada pekerja gig bukan solusi karena mayoritas merupakan pekerja migran berpenghasilan rendah.

Sejumlah kota, termasuk Shenzhen, bahkan telah memperingatkan pasar layanan transportasi daring sudah mengalami kejenuhan. Pemerintah pun menghadapi dilema antara memperkuat perlindungan pekerja dan menjaga kemampuan sektor ekonomi platform menyerap tenaga kerja.

Rata-rata upah per jam  pekerja di ChinaRata-rata upah per jam pekerja di China Foto: Reuters

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |