Jakarta, CNBC Indonesia - Singa dikenal sebagai "raja hutan" Afrika dan dianggap sebagai pemangsa paling berbahaya di alam liar. Namun penelitian terbaru menunjukkan kenyataan berbeda. Manusia adalah makhluk yang paling ditakuti oleh satwa liar, bahkan melebihi singa.
Penelitian yang dipublikasikan pada 7 Juli 2026 oleh jurnal ScienceAlert dilakukan di kawasan Taman Nasional Greater Kruger, Afrika Selatan, tempat hidup populasi singa terbesar di dunia. Tim peneliti dari Universitas Western Kanada merekam reaksi 19 jenis mamalia terhadap berbagai suara yang diputar di dekat sumber air.
Suara yang diuji meliputi, geraman dan suara komunikasi singa, percakapan manusia dalam bahasa lokal dan internasional, serta bunyi tembakan senjata serta gonggongan anjing pemburu.
Hasilnya menunjukkan 95% spesies hewan memberikan reaksi ketakutan yang jauh lebih kuat saat mendengar suara manusia. Hewan dua kali lebih cepat meninggalkan lokasi dibandingkan ketika mendengar suara singa. Bahkan, suara percakapan biasa pun menimbulkan respons yang lebih besar dibandingkan suara tembakan atau anjing pemburu.
"Rasa takut terhadap manusia sudah tertanam dalam naluri dan tersebar luas. Hal ini tidak hilang meski hewan hidup di kawasan lindung yang jarang terancam perburuan," ujar ahli biologi konservasi Michael Clinchy.
Penelitian lanjutan mengonfirmasi bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Afrika. Pengujian di Australia pada 2024 menemukan bahwa kanguru dan hewan berkantung lainnya juga lebih takut pada manusia, meskipun keberadaan manusia di sana jauh lebih singkat dibandingkan sejarah keberadaan singa di Afrika.
Pola serupa juga tercatat di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Kesimpulannya: manusia berperan sebagai "predator super" yang menjadi ancaman utama bagi satwa liar di seluruh dunia.
Dampak dari ketakutan ini bersifat ganda. Secara alami, kecemasan yang terus-menerus dapat mengganggu pola makan dan berkembang biak hewan, yang berisiko menurunkan populasi mereka. Namun temuan ini justru bisa dimanfaatkan untuk perlindungan.
Di Afrika Selatan, petugas konservasi kini menggunakan rekaman suara percakapan manusia di area yang sering menjadi sasaran perburuan liar. Cara ini terbukti efektif menjauhkan hewan terancam punah seperti badak putih selatan dari jalur berbahaya.
"Keberadaan manusia memberi dampak besar, bukan hanya lewat kerusakan lingkungan, tapi sekadar kehadiran kita saja sudah menjadi sinyal bahaya yang sangat kuat," tambah peneliti Liana Zanette.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































