Bahlil Ultimatum Inpex, Gas Blok Masela Harus Produksi di 2029

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa proyek minyak dan gas (migas) Lapangan Abadi Blok Masela harus masuk tahap produksi sebelum Pilpres 2029. Pemerintah menegaskan tak segan mencabut izin jika proyek tersebut mangkrak.

Bahlil menegaskan bahwa proyek migas yang dikelola oleh perusahaan asal Jepang yakni Inpex Masela Ltd. itu sudah dikembangkan sejak 26 tahun lalu. Menurutnya, jika proyek tersebut tidak segera beroperasi, maka pemerintah tidak segan untuk mencabut izin Inpex dalam mengembangkan Masela.

"301 sumur konsesi yang sudah selesai POD yang nggak jalan-jalan jalan-jalan termasuk yang namanya di Maluku Utara Inpex, Blok Masela. Blok Masela itu saya masih SD 26 tahun dia sudah pegang itu blok. 26 tahun Bos," kata Bahlil di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Bahlil pun telah memanggil pihak Inpex dan memberikan peringatan tegas. "Saya panggil Inpex, you datang sini. Datang waktu saya bilang sama dia kalau you gak mau saya akan kasih surat peringatan satu, kedua kalau tidak saya cabut. Enggak ada urusan. Kau mau bawa ke arbitrase kah arbit mana kah terserah kau," tegasnya.

Menurutnya, peringatan tersebut mulai membuahkan hasil. Proyek Masela disebut sudah masuk tahap tender dengan nilai investasi jumbo.

Bahlil menegaskan, produksi Blok Masela harus sudah berjalan sebelum pergantian masa pemerintahan 2029 mendatang.

"Dengan cara itu sekarang Inpex Masela udah mulai tender. Tahun ini udah mulai tender dan produksinya insya Allah dia bilang 2030 saya bilang enggak, 2030 sudah pilpres kau bikin 2029. Aku enggak mau tahu. Kau bikin 2029," katanya.

"Nah kemarin sudah dibangun konstruksinya 2025 sekarang sudah mulai tender kemarin SKK Migas sudah laporkan ke saya total investasinya US$ 18 miliar. Nah ini salah satu giant. Salah satu giant ini Blok Masela," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.

Konsep pengembangan lapangan greenfield (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |