SMF Sulap 84 Rumah Kumuh Jadi Layak Huni di Surakarta, Warga Happy

2 hours ago 6

Surakarta, CNBC Indonesia - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mengubah pemukiman kumuh di kawasan Sangkrah Kota Surakarta, Jawa Tengah menjadi 37 unit rumah layak huni melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Direktur Utama PT SMF Ananta Wiyogo menjelaskan bahwa pembangunan pemukiman kumuh di kelurahan Sangkrah digelar bertahap. Pada tahap pertama, SMF membangun 47 unit rumah yang telah rampung di tahun 2022.

Sementara pada tahun 2025, SMF merampungkan 37 unit rumah dengan dana yang digelontorkan mencapai Rp 4,48 miliar.

"Dengan total nilai kurang lebih hampir Rp 5 miliar dimana SMF berkontribusi kurang lebih untuk 37 unit rumah. Sehingga total rumah yang telah dibangun SMF dalam program CSR dalam pengembangan rumah kumuh adalah sebanyak 84 unit," ujar Ananta dalam kunjungan kerja pers 2026 Peran Kementerian Keuangan dalam peningkatan kualitas permukiman dan pemberdayaan masyarakat di kota Surakarta, Kamis (12/2/2026).

Ananta menjelaskan pembangunan tersebut menyasar masyarakat desil 2 ke bawah yang memiliki penghasilan tidak tetap dan tidak memiliki kemampuan mengangsur.

"Sehingga program TJSL peningkatan kualitas rumah di daerah kumuh merupakan salah satu solusi yang dapat dilaksanakan untuk menekan backlog rumah layak huni," ujarnya.

Menurutnya, sektor perumahan memiliki dampak berganda atau multiplier effect sebesar 1,68x terhadap pertumbuhan ekonomi. "Setiap investasi Rp 1 triliun akan mendapatkan PDB sebesar Rp 1,9 triliun," ujarnya.

Awal Baru Bagi Masyarakat

Sebelum dirombak menjadi rumah layak huni berukuran 4x5 meter, para warga telah tinggal di kawasan kumuh Sangkrah Kota Surakarta selama puluhan tahun.

Salah satunya Sumiarni (60) sudah 30 tahun bertahan di rumah yang menurutnya jauh dari kata layak.

Atap genteng yang bocor, tembok lapuk dimakan usia, hingga banjir tiap kali hujan menjadi bagian dari keseharian Sumiarni bersama ketiga anaknya.

"Belum ada MCK, belum ada kamar mandi. Rumahnya genteng pocok, terus banjir, ya kumuh lah, nggak layak pakai," ujar Suniarni kepada CNBC Indonesia dikutip Kamis (12/2/2026).

Namun, keadaan tersebut telah berubah. Melalui program pembangunan ini Sumiarni akhirnya menempati hunian baru yang lebih aman.

Walaupun berukuran lebih kecil, Sumiarni mengaku kini tempat tinggalnya jauh lebih layak dan nyaman kendati baru ditempatkan selama 3 minggu.

"Lebih enak, lebih nyaman, lebih bagus lagi. Iya, (walaupun) baru 3 minggu," ujarnya.

Tomo (53) seorang penjual bakso keliling pun menceritakan hal yang sama.

Dirinya menjelaskan, sebelum kawasan tersebut ditata warga membangun rumah secara swadaya di atas lahan kosong. Sebagian bahkan melakukan jual beli secara informal tanpa sertifikat kepemilikan tanah yang jelas.

"Beli di sebelah itu. Saya dulu juga beli. Beli punya orang. Tapi tidak jelas itu, sertifikatnya tidak jelas? Sertifikat tidak ada, rumahnya negara. Cuma itu ada PBB-nya juga ada," ujar Tomo.

Menurut Tomo, kondisi lingkungan saat itu sangat kumuh. Drainase buruk, sampah menumpuk, bahkan banjir kerap melanda kawasan tersebut.

"Soalnya dulu kan kumuh, banyak tikus, banyak,itu apa, drainase itu kan banyak sampah-sampah. Alhamdulillah, sudah dikasih gorong-gorong kan, dulu sini banjir terus," ujarnya.

Selama proses pembangunan berlangsung, warga juga difasilitasi bantuan dana untuk menyewa tempat tinggal sementara.

Saat ini, Sumiarni, Tomo, beserta penghuni kawasan Sangkrah lainnya dapat tinggal di rumah berukuran 4x5 meter dengan luas bangunan dua lantai secara nyaman.

"Sekarang Alhamdulillah, sudah bersih semua dan ada manfaatnya banyak," ujar Tomo.

(mij/mij)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |