Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China mulai mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk memburu praktik korupsi dalam proses tender proyek publik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperketat pengawasan, seiring kampanye antikorupsi Presiden Xi Jinping yang terus digencarkan.
Melalui pedoman terbaru yang dirilis Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional bersama tujuh lembaga pemerintah lainnya, sistem AI akan digunakan untuk memantau seluruh proses tender dan lelang. Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi kejanggalan dokumen, mengawasi keputusan komite penilai, hingga memberikan rekomendasi dengan kemampuan penalaran mirip manusia.
Sistem ini juga ditugaskan mencari indikasi pengaturan tender atau praktik suap, lalu memberikan petunjuk bagi aparat penegak hukum untuk menindaklanjutinya.
Dikutip dari Reuters, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Xi pada Januari 2025 agar pemerintah memperkaya alat pemberantasan korupsi, termasuk memanfaatkan big data. Komisi Pusat Inspeksi Disiplin, lembaga pengawas korupsi tertinggi di China, juga menekankan pentingnya teknologi dalam mendeteksi pelanggaran.
Penggunaan AI ini bahkan sudah membuahkan hasil. Di Provinsi Zhejiang, badan antikorupsi menahan seorang pengelola aset milik negara pada Januari 2025 setelah sistem AI mendeteksi potensi penyimpangan dalam sejumlah proyek.
Pejabat bernama Feng Jiang itu diketahui menerima suap ratusan ribu yuan dari peserta tender. Ia berperan sebagai perantara untuk menyuap anggota komite penilai agar memenangkan pihak tertentu.
Menurut aparat, jumlah proyek yang harus diawasi sangat besar sehingga mustahil diperiksa satu per satu secara manual. Teknologi big data dan AI dinilai mampu memberikan petunjuk awal yang kemudian ditelusuri hingga kasus terungkap.
"Tender dan penawaran terlalu banyak, mustahil bagi kami untuk memeriksa setiap proyek," ujar Wang Rongfei, staf lembaga antikorupsi setempat.
Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman dua setengah tahun penjara kepada Feng pada November 2025.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]















































