Jakarta, CNBC Indonesia - Di level enterprise, ancaman siber tidak lagi sekadar persoalan teknis yang bisa diserahkan sepenuhnya kepada divisi IT. Ancaman telah berevolusi menjadi risiko strategis yang berdampak langsung pada keberlangsungan bisnis, reputasi perusahaan, hingga kepatuhan regulasi.
Ironisnya, salah satu celah terbesar justru berasal dari hal yang terlihat sepele, yakni sistem dan perangkat yang tidak lagi mutakhir.
Laporan ASUS 2025 Future of SMB Report memang berfokus pada bisnis skala menengah, namun temuan utamanya sangat relevan hingga ke perusahaan berskala enterprise. Ternyata, hampir 50% organisasi mengakui bahwa pembaruan dan pemeliharaan sistem merupakan tantangan besar.
Dalam konteks enterprise, tantangan ini menjadi berlipat ganda karena kompleksitas infrastruktur, jumlah endpoint yang masif, serta ketergantungan pada sistem legacy yang masih menjalankan proses bisnis kritikal.
Ancaman tersebut semakin nyata dengan berakhirnya masa dukungan Windows 10 pada 14 Oktober 2025 lalu dan layanan Extended Security Updates (ESU) Windows 10 yang hanya berlangsung hingga 13 Oktober 2026.
Yang jadi permasalahan, banyak perangkat lama tidak lagi memenuhi syarat untuk upgrade, menciptakan potensi blind spot keamanan di lingkungan kerja enterprise yang seharusnya paling terkontrol.
Menurut Commercial Country Product Manager, Enterprise Desktop & All-in-One ASUS Indonesia, Irene Ng, risiko terbesar bukan pada serangan itu sendiri, melainkan pada asumsi bahwa sistem lama masih cukup aman.
"Di skala enterprise, satu endpoint yang tertinggal update dapat menjadi pintu masuk bagi ancaman yang berdampak ke seluruh organisasi, ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (12/2/2026).
Foto: Commercial Country Product Manager, Enterprise Desktop & All-in-One ASUS Indonesia, Irene Ng
Paradoks Kesadaran di Level Enterprise
Menariknya, kesadaran terhadap pentingnya IT tidak pernah setinggi sekarang. Dalam survey, sebanyak 90% pemimpin bisnis menyatakan bahwa IT jauh lebih krusial dibandingkan satu dekade lalu.
Sayangnya, kesadaran tersebut tidak selalu diiringi dengan kecepatan eksekusi. Hanya 42% organisasi yang benar-benar proaktif dalam menjaga sistem tetap mutakhir.
Di lingkungan enterprise, keterlambatan sering kali bukan karena kelalaian, melainkan karena proses internal yang kompleks. Validasi berlapis, kekhawatiran terhadap kompatibilitas aplikasi, hingga potensi gangguan operasional membuat update sistem kerap tertunda. Sayangnya, pendekatan ini justru memperbesar eksposur terhadap ancaman siber modern.
Enterprise sering kali terjebak pada dilema antara stabilitas dan keamanan. Padahal, menurut Irene, dalam lanskap ancaman saat ini, sistem yang tidak diperbarui justru jauh lebih tidak stabil secara jangka panjang. Pepatah If it ain't broke, don't fix it tidak berlaku di level enterprise, terutama di era siber seperti saat ini.
Dari Masalah Operasional Menjadi Risiko Bisnis
Ketika sistem tidak diperbarui secara konsisten, dampaknya tidak berhenti pada sisi teknis. Risiko ini akan merembet ke area kepatuhan, audit, dan tata kelola perusahaan. Banyak regulasi industri kini mensyaratkan standar keamanan tertentu, dan penggunaan sistem yang sudah tidak didukung dapat menjadi temuan serius dalam audit.
Selain itu, serangan siber di level enterprise jarang berdampak lokal. Sekali terjadi, gangguan bisa menyebar lintas divisi, menghentikan operasional, merusak kepercayaan mitra, hingga menimbulkan kerugian finansial yang signifikan.
Data menunjukkan bahwa organisasi tanpa mekanisme IT yang aktif dan terotomatisasi lebih rentan tertinggal dalam pembaruan sistem. Dalam skala enterprise, ini berarti risiko yang terdistribusi di ratusan hingga ribuan perangkat.
Peran AI PC dalam Strategi Ketahanan Siber Enterprise
Di sinilah AI-powered PC menjadi elemen penting dalam strategi keamanan enterprise modern. Berbeda dari pendekatan tradisional yang bergantung pada intervensi manual, AI PC menghadirkan otomatisasi cerdas dalam pembaruan sistem, diagnostik perangkat, serta perlindungan berbasis hardware.
Melalui lini Enterprise Desktop dan All-in-One ASUS ExpertCenter Series, ASUS menghadirkan perangkat dengan ASUS ExpertGuardian yang dirancang untuk lingkungan bisnis skala besar. Solusi ini mengintegrasikan fitur keamanan tingkat hardware, enkripsi, serta mekanisme update otomatis yang bekerja konsisten di seluruh endpoint.
AI memungkinkan enterprise mengelola skala dengan lebih efisien. Dengan AI PC, pembaruan dan perlindungan tidak lagi bergantung pada tindakan manual di setiap perangkat, tetapi dijalankan secara sistematis dan terstandarisasi.
Menuju Enterprise yang Resilien, Bukan Sekadar Aman
Ketahanan siber di level enterprise bukan hanya soal mencegah serangan, tetapi memastikan bisnis tetap berjalan di tengah gangguan. Dalam konteks ini, modernisasi perangkat bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis.
AI PC membantu enterprise bertransformasi dari pendekatan reaktif menjadi resiliensi proaktif. Sistem yang selalu diperbarui, perangkat yang siap mendukung standar keamanan terbaru, serta AI yang bekerja terus-menerus menciptakan fondasi IT yang lebih adaptif dan tahan terhadap ancaman masa depan.
Menjelang berakhirnya dukungan Windows 10, pesan bagi perusahaan enterprise semakin tegas: menunda modernisasi berarti menumpuk risiko sistemik. Investasi pada AI PC bukan semata tentang performa atau efisiensi, tetapi tentang menjaga integritas operasional, reputasi, dan keberlanjutan bisnis.
Di era digital, keamanan tidak bisa berdiri di atas teknologi yang tertinggal,tutup Irene. Enterprise yang ingin tetap kompetitif harus memastikan seluruh infrastrukturnya siap menghadapi ancaman hari ini dan esok, dan itu dimulai dari perangkat yang cerdas, aman, dan selalu relevan. Dalam lanskap bisnis modern, ketahanan siber bukan lagi diferensiasi. Bagi enterprise, ia telah menjadi fondasi utama strategi bisnis jangka panjang.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

















































