The Fed Warning Tarif Baru Donald Trump, Katakan Ini

19 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed/Fed) buka suara soal tarif baru ke lebih dari 160-an negara dan kawasan yang diterapkan Presiden Donald Trump. Bakal muncul ketidakpastian perdagangan yang dipicu oleh tarif tersebut, yang kemungkinan akan meningkatkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat di AS, termasuk menimbulkan tantangan bagi kebijakan The Fed.

Sebagai bank sentral AS, The Fed memiliki mandat ganda untuk mengatasi inflasi dan pengangguran. Saat ini tugasnya pun bertambah dengan kewajiban "memetakan jalan" di tengah ketidakpastian yang ditimbulkan oleh Trump pada hari Rabu, yang telah mengguncang pasar keuangan.

Padahal The Fed telah menargetkan inflasi 2% dan dengan pertumbuhan yang solid, seharusnya pengangguran pun akan rendah. Namun ancaman membayangi The Fed karena Trump dan membuatnya menghentikan pemotongan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir.

Mengutip AFP, berbicara di Pennsylvania Kamis, anggota dewan gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan perkiraan dasarnya masih meramalkan pertumbuhan akan melambat "cukup" tahun ini, dengan kenaikan inflasi dan perjuangan inflasi yang terhenti, sebagian karena tarif dan perubahan kebijakan lainnya. Meskipun ada kemungkinan bahwa gangguan dari tarif bisa jadi minimal, Cook mengatakan dalam pernyataan tertulisnya bahwa ia menempatkan "lebih banyak bobot pada skenario di mana risiko condong ke sisi atas untuk inflasi dan ke sisi bawah untuk pertumbuhan".

"Skenario seperti itu, dengan inflasi awal yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat, dapat menimbulkan tantangan bagi kebijakan moneter," tambahnya, menyinggung tantangan yang akan dihadapi Fed, yang berupaya menurunkan inflasi tanpa kemudian memicu lonjakan angka pengangguran, dikutip Jumat (4/4/2025).

Cook mengatakan ia juga memantau dengan cermat apakah lonjakan inflasi jangka pendek dapat memicu kenaikan harga yang "lebih meluas". Apalagi tarif yang diterapkan Trump untuk baja dan aluminium telah menaikkan harga untuk input manufaktur tersebut.

"Ketika kenaikan biaya tersebut terjadi melalui proses manufaktur, kenaikan tersebut dapat meningkatkan harga berbagai barang dari waktu ke waktu," jelasnya.

Menggunakan industri kendaraan bermotor sebagai contoh, Cook mencatat bahwa efek gabungan dari tarif baja dan aluminium serta pungutan otomotif dapat memengaruhi harga mobil baru. Ini berdampak pada harga kendaraan bekas yang lebih tinggi.

"Dan, seperti yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir, harga kendaraan bermotor yang lebih tinggi dapat, dengan jeda waktu, meningkatkan biaya untuk layanan terkait, seperti sewa, asuransi, dan perbaikan mobil," katanya.

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian dan risiko bagi kedua belah pihak dalam mandat ganda kita, saya yakin akan tepat untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada level saat ini sambil terus memantau perkembangan yang dapat mengubah prospek," tambahnya.

Sebelumnya dalam laporan terbaru kemarin, JPMorgan menaikkan perkiraan akan resesi menjadi 60% dari sebelumnya 40%. Resesi adalah pelemahan ekonomi atau ekonomi negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.


(sef/sef)

Saksikan video di bawah ini:

Video:Trump Bikin Bank Sentral "Waspada", Nasib Rupiah-BI Rate Gimana?

Next Article Ramalan Gubernur BI: The Fed Bakal 2 Kali Pangkas Suku Bunga di 2025

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |