RI Bangun Sentra Industri Garam Nasional di NTT, Targetkan Setop Impor 2029

2 hours ago 2

Jakarta -

Pemerintah menargetkan pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), seluas 2.000 hektare. Pengembangan tahap I seluas 616 hektare diselesaikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan dilanjutkan tahap II seluas 751 hektare.

"Pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao juga merupakan bagian dari pemerataan pembangunan di NTT. Program prioritas ini diharapkan memberikan efek pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta pengentasan kemiskinan di kawasan tersebut," kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari dalam konferensi pers di kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (2/92026).

Qodari mengatakan pengembangan kawasan seluas 2.000 hektare tersebut dilaksanakan KKP melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan milik masyarakat. Masyarakat akan memperoleh manfaat ekonomi lewat bagi hasil pemanfaatan lahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, KKP tengah melakukan uji coba produksi pada lahan seluas 616 hektare dengan target panen perdana pada November 2026.

Adapun secara keseluruhan, pengembangan Rote sebagai lokasi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) mencakup area sekitar 10.764 hektare. Selain 2.000 hektare yang dikembangkan KKP, sekitar 8.000 hektare kawasan lainnya akan dikembangkan oleh investor.

Qodari menegaskan pengembangan K-SIGN ini merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada garam. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara bertahap dari baseline sekitar 1 juta ton menjadi 2,5 juta ton pada 2026, 3,5 juta ton pada 2027, dan 5 juta ton pada 2029 sehingga impor disetop.

"Sejalan dengan itu, volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026, 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada 2029, sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional," ucapnya.

Qodari menyebut nilai investasi pengembangan K-SIGN seluas 2.000 hektare di Rote Ndao diperkirakan mencapai Rp 2 triliun, mencakup pembangunan tambak garam serta sarana-prasarana pendukung seperti jalan, fasilitas penyimpanan dan pengolahan, pompa, dan infrastruktur lainnya.

Pada tahap awal, KKP menerapkan metode tambak garam terbuka menggunakan geomembran atau high-density polyethylene (HDPE) untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas garam. Beriringan dengan itu, KKP menyiapkan rencana modernisasi teknologi secara bertahap melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemanfaatan energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

"Pengembangan K-SIGN Rote Ndao diharapkan meningkatkan pendapatan petambak melalui peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah garam, sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat setempat dalam rantai usaha garam," ujar dia.

(fca/ygs)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |