Purbaya Ungkap Rp 800 Miliar per Tahun Cukup untuk Bayar Utang Whoosh

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri mampu membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung alias Whoosh, setelah pengalihan pengelolaan dari Danantara ke Kementerian Keuangan terjadi pada 15 September 2026.

Ia mengatakan, badan layanan umum (BLU) atau special mission vehicle (SMV) yang tengah ia siapkan untuk mengelola Whoosh saja memiliki keuntungan bersih per tahun sekitar Rp 800 miliar.

"Let's say satu perusahaan SMV saja, keuntungannya berapa sekarang? Rp 3 triliun, Rp 4 triliun setahun. Ditambah dengan operasionalnya sendiri, mungkin dapat Rp 800 miliar keuntungannya," kata Purbaya di kawasan Istana Negara, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Dengan kemampuan BLU di bawah pengelolaan Kemenkeu yang dapat menghasilkan keutungan bersih sekitar Rp 800 miliar per tahun itu, ia mengaku optimistis mampu memenuhi kewajiban pembayaran proyek pembangunan Whoosh.

"Cukuplah untuk bayar utang yang ada sekarang. Nanti kita hitung. Yang jelas kami enggak bayar ke Danantara untuk penyerahan ini," paparnya.

Purbaya menegaskan, dalam proses pengalihan Whoosh ke Kementerian Keuangan, pihaknya tidak perlu melakukan pembayaran uang khusus ke Danantara, sehingga tidak akan membebani keuangan negara.

"Enggak ada, Itu kan dana penyertaan ekuitas dikasih ke saya, nol rupiah. Kan saya nanggung utang ke depannya. SMV saya menanggung utang ke depannya. Jadi enggak ada cost-nya buat saya. Tapi nanti tiap tahun perusahaan BUMN yang di bawah Kementerian Keuangan akan bayar itu," ungkap Purbaya.

Sebagaimana diketahui, Kementerian Keuangan akan mengambil alih 60% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang merupakan konsorsium WIKA, PT KAI, Jasamarga dan PTPN III untuk menyelesaikan masalah utang proyek Whoosh.

Sementara itu, 40% saham konsorsium perusahaan China tidak berubah dan konsorsium PT PSBI tidak akan dibubarkan.

Soal utang kereta cepat Woosh sudah menjadi polemik sejak beberapa periode ke belakang karena beban utang proyeknya membebani neraca keuangan PT Kereta Api (Persero).

PT KAI dalam proyek itu berperan sebagai pemimpin perusahaan konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, yang menjadi pemegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), pengelola Kereta Cepat Jakarta Bandung alias Whoosh.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |