Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menganggap, pemerintah belum perlu merancang insentif atau stimulus khusus yang ditujukan untuk menangani dampak ekonomi dari erupsi Anak Krakatau.
Sebagaimana diketahui, abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak 5 September 2026 telah membuat 8 bandara ditutup, hingga 1.558 penerbangan ditunda.
"Belum, belum ada (stimulus)," kata Purbaya saat ditemui di kawasan Istana Negara, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurut Purbaya, stimulus ekonomi itu belum perlu disiapkan karena dampak ekonomi dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak sebesar bencana yang terjadi di sejumlah daerah sebelumnya, seperti banjir lumpur di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, hingga gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Harusnya sih nggak terlalu signifikan ya kalau hanya beberapa hari. Kalau hanya beberapa hari bencana saja dan debunya kan enggak tebel-tebel amat kan ya?" kata Purbaya.
Meski begitu, ia memastikan, pemerintah akan terus memantau efek lanjutan dari bencana erupsi itu. "Kita lihat ke depan seperti apa, harusnya sih mudah-mudahan sih nggak terlalu parah," paparnya.
Pemerintah ia pastikan juga telah mempersiapkan anggaran penanganan bencana yang memumpuni di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia pun mengaku tak ragu menambah anggaran BNPB bila diperlukan.
"Berapapun angkanya akan kita usahakan semaksimal mungkin. Tapi jangan ngaco ya hitungannya, enggak di ada-adain. Selama hitungannya clear enggak ada masalah, kita bisa sediakan uangnya," tutur Purbaya.
Sebelumnya, Kepala Pusat Riset Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman mengatakan, dampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 minim dari kejadian erupsi Anak Krakatau itu. Ia memanfaatkan perhitungan model Computable General Equilibrium (CGE).
"Dampaknya ke ekonomi tentu ada, tetapi belum tentu sampai menekan pertumbuhan kuartal III secara besar," kata Rizal kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).
Menurut Rizal, penutupan delapan bandara dan tertundanya 1.558 penerbangan memang mengganggu perjalanan dan aktivitas usaha. Namun, perjalanan yang tertunda belum tentu batal, karena masih bisa dijadwal ulang atau dialihkan sebelum akhir September, sebagian aktivitas ekonominya tetap berjalan dalam kuartal yang sama.
Dari perhitungan menggunakan model CGE, ia mengatakan, jika gangguan berlangsung sepekan dan separuh aktivitas yang terdampak bisa pulih sebelum akhir September, pertumbuhan ekonomi tertekan hanya sekitar 0,003 poin persentase.
Sebagai gambaran, pertumbuhan yang tanpa gangguan sebesar 5%, akan menjadi sekitar 4,997%. Bila gangguan berlangsung sampai tiga pekan dan pemulihannya hanya 20%, tekanannya menurut Rizal bisa naik menjadi sekitar 0,015 poin persentase.
"Jadi, dalam skenario ini, pengaruhnya terhadap pertumbuhan nasional masih relatif kecil," ujar Rizal.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]


















































