- Pasar keuangan RI ditutup beragam Rupiah dan IHSG menguat sementara SBN stagnan
- Wall Street ambruk berjamaah
- Inflasi China dan IKK akan menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. Bursa saham dan Rupiah ditutup menguat sementara surat berharga negara (SBN) bergerak stagnan.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan bergerak hijau walaupun masih akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya serta potensi supply chain yang terganggu akibat bencana alam yang melanda Indonesia dari berbagai macam spektrum.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (8/9/2026). IHSG naik 66,77 poin atau 1,01% ke level 6.686,44.
IHSG bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan. Indeks dibuka pada level 6.639,51 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.696,28 serta terendah 6.636,94.
Penguatan IHSG terjadi di tengah penguatan mayoritas sektor saham. Sektor bahan baku menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,21%, disusul konsumer primer menguat 1,05%, finansial 1,03%, industri 0,63%, energi 0,63%, teknologi 0,34%, dan properti 0,08%.
Dari jajaran saham penggerak indeks, Bank Central Asia (BBCA) menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi 11,73 poin. Saham BBCA ditutup di level 6.675.
Selanjutnya, Sinar Mas Multiartha (SMMA) menyumbang 7,27 poin, Amman Mineral Internasional (AMMN) 7,17 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 4,66 poin, Merdeka Copper Gold (MDKA) 3,72 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) 3,47 poin.
Di sisi lain, Bumi Resources Minerals (BRMS) menjadi pemberat terbesar dengan mengurangi 2,37 poin indeks. Global Digital Niaga (BELI) menekan 1,44 poin, sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) mengurangi 1,05 poin.
Penguatan IHSG kemarin juga terjadi setelah indeks pada perdagangan Senin (7/9/2026) terkoreksi 0,25% ke level 6.619,67.
Dengan kenaikan 1,01% kemarin, IHSG berhasil menghapus tekanan perdagangan sebelumnya dan kembali mendekati level 6.700.
Aktivitas perdagangan saham terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 37,5 miliar saham dengan nilai transaksi Rp15,8 triliun.
Frekuensi perdagangan mencapai 2,3 juta kali. Sebanyak 363 saham menguat, 244 saham melemah, dan 285 saham stagnan.
Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign inflow sebesar Rp 398, 12 miliar di all market dan mencatatkan net foreign inflow pula di pasar reguler sebesar Rp 379,39 miliar
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 67,76 triliun di all market dan Rp 96,32 triliun di reguler market.
Secara teknikal, IHSG kini kembali mendekati level psikologis 6.700 setelah menutup perdagangan di 6.686,44. Indeks sempat menyentuh 6.696,28, sehingga area 6.700 menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi peluang penguatan lanjutan. Sebelumnya, analis menempatkan area resistance IHSG di sekitar 6.695 dan 6.780, dengan support di kisaran 6.552-6.453.
Nilai tukar rupiah berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan kemarin
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,03% dan mengakhiri perdagangan kemarin, Selasa (8/9/2026) di posisi Rp17.625/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.590-Rp17.635/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,26% ke posisi 98,915.
Berbaliknya rupiah ke zona hijau terjadi ketika dolar AS melemah di pasar global. Penurunan DXY memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Kondisi ini sejalan dengan proyeksi dalam laporan Macro & Fixed Income Daily Morning Notes Mega Capital Sekuritas (MCS), yang memperkirakan mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.600-Rp17.700/US$.
"Rupiah juga berpotensi mengalami hal serupa pada rentang IDR 17,600-17,700 per USD akibat kombinasi pelemahan indeks dolar dan sisa-sisa apresiasi JPY akibat sisa-sisa sentimen BOJ Rate hike dalam waktu dekat," tulis laporan MCS yang dikutip Selasa (8/9/2026).
Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan kembali menaikkan suku bunga. Kenaikan yen turut menekan DXY karena mata uang Jepang menjadi salah satu komponen utama indeks dolar AS.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami stagnasi hal ini mengindikasikan investor sama kuatnya dalam melakukan pembelian dan juga penjualan di pasar.
SBN bergerak stagnan di level 7,088% pada perdagangan Jumat kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau juga ditutup pada level 7,088%

















































