Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali melemah karena kenaikan harga minyak. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada September.
Investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (8/9/2026) ditutup di posisi US$ 4354,19 per troy ons. Harganya jatuh 1,15%. Pelemahan ini menyeret emas kembali ke level US$4300.
Pelemahan juga memperpanjang tren negatifnya dengan turun 2,7% dalam tiga hari terakhir.
Pada hari ini, harga emas masih melemah. Pada Rabu (9/9/2026) pukul 07.02 WIB, harga emas melemah 0,05% ke US$ 4352,14 per troy ons.
"Emas bergerak dalam kisaran terbatas karena tertahan oleh meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga, yang terus menghambat momentum pasar," kata Daniel Pavilonis, senior market strategist di StoneX, dikutip dari Refinitiv.
Harga minyak menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan bahkan mendekati US$ 100 setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menyerang fasilitas energi Arab Saudi. Teheran juga mengancam Amerika Serikat dengan perang ekonomi.
Harga minyak mentah Brent mendekati level US$100 per barel, menyentuh US$99,46 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada September, kata Peter Grant, wakil presiden sekaligus senior metals strategist di Zaner Metals.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 60% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan berikutnya. Angka tersebut meningkat dari sekitar 50% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Pasar menunggu data inflasi yang akan dirilis pada Kamis.

















































