Aisha Mayra, CNBC Indonesia
23 July 2026 11:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar tenaga kerja di negara-negara maju masih terlihat cukup tangguh di tengah perlambatan ekonomi global. Rata-rata tingkat pengangguran di negara anggota OECD tercatat 4,9% pada Mei 2026, tidak jauh berbeda dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Namun, angka tersebut menyembunyikan kesenjangan yang cukup lebar. Dari 39 negara anggota OECD yang disurvei menggunakan data seasonally adjusted untuk penduduk usia 15 tahun ke atas, tingkat pengangguran berkisar mulai 2,5% di Jepang hingga 10,8% di Finlandia.
Sejumlah negara masih menikmati permintaan tenaga kerja yang kuat, sementara sebagian lain mulai merasakan tekanan akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Finlandia Paling Tinggi
Finlandia menjadi negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di OECD pada Mei 2026, yakni 10,8%, sedikit di atas Spanyol yang mencatat 10,3%. Posisi berikutnya ditempati Chile (9,2%), Swedia (8,8%), serta Prancis dan Türkiye yang sama-sama berada di 8,2%.
Jika diperluas hingga sepuluh besar, mayoritas negara berasal dari Eropa. Selain Finlandia, Spanyol, Swedia, Prancis, dan Türkiye, terdapat Yunani (8,1%), Lithuania (7%), Denmark (6,9%), dan Luksemburg (6,9%). Satu-satunya negara Amerika Latin yang masuk kelompok ini adalah Chile.
Dominasi Eropa di kelompok dengan pengangguran tertinggi mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar tenaga kerja kawasan tersebut. Perlambatan aktivitas ekonomi membuat permintaan tenaga kerja melemah di sejumlah negara, sehingga proses perekrutan tidak sekuat beberapa tahun terakhir.
Spanyol menjadi contoh yang menonjol. OECD mencatat negara tersebut telah lama menghadapi tantangan struktural di pasar tenaga kerja, sehingga secara konsisten berada di antara negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di kawasan.
Sementara itu, Finlandia juga menghadapi tekanan yang lebih besar pada kelompok usia muda. Tingkat pengangguran penduduk berusia di bawah 25 tahun mencapai 23%, lebih dari dua kali lipat tingkat pengangguran nasionalnya.
Asia Timur Masih Tahan Banting
Berbeda dengan Eropa, sejumlah negara Asia Timur masih mempertahankan tingkat pengangguran yang sangat rendah.
Jepang mencatat tingkat pengangguran 2,5%, terendah di antara seluruh anggota OECD. Posisi berikutnya ditempati Meksiko (2,7%), Korea Selatan (2,8%), Israel (2,8%), dan Ceko (2,9%).
OECD menilai kondisi tersebut didukung oleh pasar tenaga kerja yang relatif ketat. Di beberapa negara, permintaan tenaga kerja masih cukup kuat, sementara perubahan demografi dan terbatasnya pasokan pekerja membuat perusahaan tetap aktif merekrut.
Kondisi itu membuat tingkat pengangguran tetap rendah meski ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung. Dalam situasi seperti ini, tantangan yang dihadapi perusahaan bukan lagi mencari pekerjaan bagi masyarakat, melainkan menemukan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Amerika Serikat Masih di Tengah
Amerika Serikat berada di posisi yang relatif moderat. OECD mencatat tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam mencapai 4,2% pada Mei 2026, masih berada di bawah rata-rata OECD sebesar 4,9%.
Kondisi berbeda terlihat di Kanada. Tingkat pengangguran mencapai 6,6%, menempatkannya di kelompok negara dengan pasar tenaga kerja yang lebih lemah dibanding Amerika Serikat.
Perbedaan ini menunjukkan perlambatan ekonomi tidak memberikan dampak yang sama di setiap negara. Meski bertetangga dan memiliki hubungan dagang yang erat, kondisi pasar tenaga kerja keduanya berkembang dalam arah yang berbeda.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kekuatan pasar tenaga kerja kini semakin ditentukan oleh kondisi domestik masing-masing negara. Pertumbuhan ekonomi, struktur pasar tenaga kerja, perubahan demografi, hingga kebutuhan tenaga kerja di tiap negara menjadi faktor yang membentuk arah pemulihan.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































