Muncul Usul Ubah Air Laut Jadi Tawar demi Antisipasi Kekeringan di Jakarta

7 hours ago 2
Jakarta -

Kemarau panjang memicu kesulitan air bersih di Jakarta. Usul mengubah air laut menjadi air tawar pun mencuat.

Dirangkum detikcom, Jumat (18/9/2026), ide itu awalnya disampaikan Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin. Dia mengusulkan Pemprov DKI mulai mempertimbangkan teknologi desalinasi atau mengubah air laut menjadi air tawar untuk mengantisipasi kemungkinan kekurangan air bersih.

"Mungkin juga langkah yang harus dilakukan adalah melakukan, di Kepulauan Seribu itu sudah ada desalinasi ya, mengubah air laut jadi air bersih, air tawar," kata Suhud di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (17/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebut teknologi desalinasi sudah diterapkan di Kepulauan Seribu. Menurut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu opsi menghadapi ancaman kekurangan air bersih di Jakarta.

Suhud menilai langkah antisipasi perlu karena kondisi kekeringan bisa berlangsung cukup panjang. Pemerintah daerah diminta menyiapkan berbagai opsi untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.

"Memang harus diantisipasi ya. Kemarin kan ada level awas dari BPBD. Nah, saya kira ini harus disikapi serius karena kekeringan ini kan tidak bisa dihindari, panjang," jelasnya.

Pramono Bilang Giant Sea Wall Harus Dimulai

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons usulan pengolahan air laut menjadi air bersih. Dia mengatakan pengolahan air laut menjadi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat berkaitan dengan pembangunan giant sea wall.

"Untuk mengubah air laut menjadi air tawar dan bisa digunakan, maka salah satu hal adalah giant sea wall-nya segera dimulai," kata Pramono di kawasan Kramat Raya.

Menurut Pramono, pembangunan giant sea wall akan mempermudah PAM Jaya mengubah air payau menjadi air tawar. Dia berharap proyek giant sea wall segera dimulai.

"Untuk di Jakarta, itu memang kalau itu bisa dilakukan, maka suplai untuk air payau atau air tawar untuk kebutuhan diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan gampang pemerintah DKI Jakarta melalui PAM Jaya, kami siap untuk melakukan itu," ujarnya.

Respons PAM Jaya

Direktur Operasional PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan pihaknya telah menerapkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di sembilan pulau di Kepulauan Seribu. Teknologi tersebut, katanya, digunakan untuk mengolah air laut menjadi air dengan standar air minum.

"Desalinasi yang kemudian mengambil air bakunya dari laut itu sebenarnya sudah kita lakukan di sembilan pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Kita menyebutnya dengan SWRO, yaitu mengelola air laut menjadi air PAM berstandar air minum," kata Syahrul di kantor PAM Jaya, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Namun, Syahrul mengatakan penerapan desalinasi air laut untuk wilayah Jakarta daratan belum dilakukan. Menurutnya, pengolahan air laut seperti itu membutuhkan upaya besar.

Direktur Teknik PAM Jaya Santika menjelaskan kendala utama pengolahan air laut menjadi air bersih. Salah satunya ialah tingginya kebutuhan energi dalam proses SWRO.

Menurutnya, air laut memiliki kandungan total dissolved solids (TDS) dan garam yang tinggi. Dia mengatakan air laut tidak bisa diolah menggunakan sistem pengolahan air biasa.

"Air bakunya itu air laut, di mana air laut itu kandungan TDS-nya yang sangat tinggi, juga kandungan garam. Nah, ini tidak bisa kita lakukan secara sistem pengolahan yang biasa," kata Santika.

Pengolahan SWRO dilakukan melalui proses penyaringan dengan tekanan tinggi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan energi dan biaya perawatan menjadi besar.

"Ini yang menjadi PR besar di dunia pengolahan air, yang dilakukan dengan menggunakan filter. Jadi kita bayangkan mengolah air dengan filter yang cukup rapat sehingga memerlukan effort yang sangat besar," jelasnya.

"Selain effort yang sangat besar, juga harus menggunakan energi yang tinggi karena butuh pressure," sambungnya.

Tingginya kebutuhan energi itu kemudian berdampak pada biaya operasional pengolahan air. Dia mengatakan biaya produksi untuk mengubah air laut menjadi air tawar sangat tinggi.

"Impact-nya apa? Akibatnya adalah biaya operasional yang cukup tinggi dan juga biaya perawatan yang sangat tinggi. Nah, oleh karena itu, cost production-nya pun otomatis akan tinggi," ujarnya.

Santika mengatakan salah satu solusi yang dapat membantu penyediaan sumber air baku Jakarta ialah pembangunan tembok laut raksasa (giant sea wall). Menurutnya, tanggul tersebut dapat menjadi bagian dari sistem penampungan air.

"Di DKI Jakarta itu kan ada 13 sungai yang melintasi DKI Jakarta dan itu butuh kita lakukan penampungan," jelasnya.

Dengan adanya penampungan, sumber air yang digunakan dapat berasal dari air sungai. Santika mengakui masih terdapat tantangan lain, yakni tingginya polutan di air sungai.

"Memang menjadi problem lagi adalah polutan, polutannya sangat tinggi. Tetapi dengan adanya bak penampungan, otomatis secara alami akan terjadi pemisahan polutan-polutan tersebut dengan secara alami, yaitu pengendapan," tuturnya.

Tonton juga video "Pramono: Modifikasi Cuaca Terus Digencarkan dan Bantuan Air Bersih Disiagakan"

(amw/amw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |