Jakarta -
Wakil Ketua MPR Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pentingnya membangun instrumen investasi nasional. Langkah ini dinilai untuk memperkuat mobilisasi modal dalam negeri sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan berkelanjutan.
Menurut Ibas, semangat gotong royong ekonomi harus diwujudkan melalui instrumen yang kredibel dan produktif. Tujuannya guna meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pembangunan nasional.
"Geopolitik mempengaruhi arus investasi. Suku bunga global juga menentukan masuk atau keluarnya modal. Karena itu, Indonesia harus terus memperkuat daya saing ekonominya," ujar Ibas dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan tersebut disampaikan Ibas saat membuka Forum Diskusi Kebangsaan bertajuk 'Gotong Royong dan Merah Putih Bond' di Kompleks MPR RI, Senayan, Jakarta.
Lulusan S2 Nanyang Technological University (NTU) Singapura ini menilai, Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang menjanjikan di kawasan. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia memiliki peluang besar menarik modal yang mencari stabilitas pertumbuhan jangka panjang.
Namun Ibas mengingatkan, peluang tersebut wajib diiringi reformasi struktural untuk memperkuat iklim usaha. Investasi ke depan harus diarahkan pada sektor produktif seperti manufaktur, energi, dan ekonomi digital secara merata.
Dalam konteks pembiayaan pembangunan, ibas menilai gagasan Patriot Bond maupun Merah Putih Bond dapat menjadi alternatif penguat modal domestik. Instrumen ini dirancang tidak sekadar menarik dana ke dalam negeri, tetapi menjaganya tetap produktif.
Ia menegaskan, implementasi instrumen tersebut harus dibangun di atas prinsip, akuntabilitas, kepastian hukum , dan tata kelola yang baik demi meraih kepercayaan publik.
Guru Bear FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Euis Amalia turut menyoroti potensi Merah Putih Bond dalam memobilisasi dana menuju Indonesia Emas 2045. Ia menekankan pentingnya audit independen dan penerapan prinsip anti pencucian uang agar instrumen ini memberi manfaat nyata bagi sektor riil dan UMKM.
Pandangan senada disampaikan Founder Fortis Capital David Noah dan pakar hukum Dr. Andrew Betlehn. Keduanya sepakat akan pentingnya kepastian hukum, penyusunan peta jalan yang komprehensif, serta prinsip good governance bagi investor. Sementara itu, Tommy Hendharto Oetomo dari P3KPI mengingatkan perlunya kejelasan mekanisme pelaporan aset.
Forum ini turut dihadiri sejumlah Anggota Fraksi Demokrat DPR RI. Menanggapi masukan yang ada, Kapoksi Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menyebut pandangan akademisi sangat penting sebagai bahan masukan penyusunan regulasi pemerintah.
Anggota Komisi XI DPR RI Hillary Brigitta Lasut menambahkan, seluruh masukan ini akan dikawal oleh DPR RI agar aturan turunannya sejalan dengan prinsip perlindungan masyarakat. Hal senada diungkapkan Wahyu Sanjaya yang menilai keberhasilan instrumen ini sangat bergantung pada komunikasi publik dan transparansi.
Menutup forum tersebut, Ibas mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus membangun optimisme terhadap masa depan ekonomi nasional melalui kolaborasi.
"Mari kita sama-sama optimis sekaligus kritis. Indonesia memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan menjadi negara maju. Yang diperlukan adalah kepercayaan, kolaborasi, dan komitmen bersama," pungkas Ibas.
(akn/ega)

















































