Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
07 March 2026 18:30
Jakarta, CNBC Indonesia- Ternyata kebiasaan menyeduh teh saat menjamu tamu tidak hanya tradisi rumah tangga Indonesia.
Di Iran, konsumsi teh berada pada tingkat yang sangat tinggi dibanding banyak negara lain. Minuman ini hadir hampir di setiap rumah, kantor, hingga kedai tradisional. Dalam banyak keluarga, air panas untuk teh bahkan dibiarkan tersedia sepanjang hari.
Kebiasaan tersebut terbentuk dari sejarah panjang perdagangan, adaptasi produksi domestik, serta praktik sosial masyarakat Persia.
Jejaknya panjang. Catatan tertua mengenai teh di wilayah Persia sudah muncul pada abad ke-11.
Tea arts culture menceritakan tentang ilmuwan besar Persia, Abu Rayhan al-Biruni, yang pernah menuliskan tentang tanaman teh dan penggunaannya di China serta Tibet dalam karya Ketab al-Saydana.
Sejak abad ke-13, teh mulai masuk ke Persia melalui jalur perdagangan Asia, terutama lewat rute kafilah yang terhubung dengan Jalur Sutra. Barang ini awalnya diperlakukan sebagai komoditas eksotik yang datang dari Timur jauh.
Perubahan besar terjadi pada abad ke-19. Diplomat Iran, Haj Mohammad Kashef Al-Saltaneh, mempelajari teknik budidaya teh di India dan membawa pulang bibit serta pengetahuan produksinya. Dari sana perkebunan teh mulai berkembang di wilayah Gilan dan Mazandaran, dua provinsi di pesisir Laut Kaspia yang memiliki iklim lembap. Produksi domestik ini mengubah teh dari barang impor menjadi minuman sehari-hari bagi masyarakat Iran.
Faktor budaya kemudian mempercepat penyebarannya.
Dalam tradisi Iran, menjamu tamu merupakan kewajiban sosial yang sangat dijunjung tinggi. Dalam banyak rumah tangga, tamu selalu disambut dengan nampan berisi teko teh dan gelas kecil.
Artikel budaya tentang tradisi teh Iran menjelaskan bahwa tamu sering dianggap sebagai "teman Tuhan", sehingga pelayanan terbaik kepada tamu menjadi bagian dari etika sosial masyarakat. Teh menjadi medium yang paling praktis untuk memenuhi kewajiban itu.
Kebiasaan ini membentuk pola konsumsi sepanjang hari. Teh diminum setelah makan, saat rapat bisnis, ketika keluarga berkumpul, atau sekadar berbincang santai di rumah.
Banyak keluarga duduk bersama di atas karpet sambil bermain kartu atau berbincang panjang, sementara teh terus diseduh dan disajikan di atas nampan. Dalam beberapa desa tradisional bahkan dikenal metode pemanasan ruangan bernama korsy, di mana keluarga berkumpul di sekitar meja dengan pemanas di bawahnya sambil minum teh hangat.
Infrastruktur sosialnya juga kuat. Kedai teh atau chaikhaneh tersebar luas di berbagai kota. Tempat ini menjadi ruang publik tempat orang berdiskusi, membaca koran, atau sekadar melepas penat. Di banyak sudut kota Iran, kedai teh hadir seperti kafe di kota-kota Barat. Bedanya, pusat interaksi sosial itu berputar di sekitar teh hitam panas.
Cara penyajiannya juga khas. Teh biasanya diseduh dalam teko porselen yang diletakkan di atas samovar, alat pemanas logam yang menjaga air tetap panas sepanjang waktu. Proses seduhnya relatif lama, sekitar sepuluh menit. Minuman ini disajikan dalam gelas kecil, sering kali ditemani gula batu dari bit gula yang diletakkan di mulut sebelum menyeruput teh. Beberapa orang menambahkan kapulaga, mawar, atau saffron untuk memberi aroma tambahan.
Kebiasaan minum teh juga berkaitan dengan iklim dan pola makan. Banyak wilayah Iran memiliki musim dingin yang cukup dingin, terutama di daerah pegunungan. Minuman panas membantu menjaga kenyamanan tubuh sekaligus menjadi pengiring hidangan berat khas Persia. Kombinasi ini membuat teh tetap relevan dalam berbagai situasi, dari rumah tangga hingga ruang publik.
Meski demikian, dinamika generasi mulai terlihat. Anak muda Iran semakin akrab dengan kopi dan minuman modern akibat pengaruh budaya global. Namun perubahan itu berjalan perlahan.
Dalam banyak keluarga Iran, tradisi menyeduh teh masih menjadi ritual harian yang diwariskan lintas generasi. Selama ruang keluarga dan kedai teh tetap menjadi pusat percakapan, secangkir teh kemungkinan masih akan terus menjadi denyut kecil dalam kehidupan masyarakat Iran.
Jika dilihat dari sudut pandang sosial dan sejarah, kegemaran warga Iran terhadap teh lahir dari kombinasi tiga faktor utama: jalur perdagangan yang membawa komoditas ini ke Persia, produksi domestik yang membuatnya mudah diakses, serta budaya menjamu tamu yang menempatkan teh sebagai simbol keramahan. Dari sanalah kebiasaan minum teh berkembang menjadi bagian dari identitas keseharian masyarakat Iran.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google


















































