Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik pada Rabu setelah sempat ambruk tetapi kenaikan dolar Amerika Serikat (AS) bisa menekan logam mulia.
Kenaikan harga emas pada Rabu didorong aksi beli saat harga murah (bargain hunting), sementara investor masih menanti kemungkinan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (22/4/2026) ditutup di US$ 4737,78 per troy ons atau menguat 0,55%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harga emas 2,3% dalam dua hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas memang bergerak sangat volatile dan naik turun dengan cepat.
Harga emas melemah pada hari ini. Pada Kamis (23//4/2026) pukul 06.24 WIB, harga emas melemah 0,2% di US$ 4728,15 per troy ons.
Lonjakan dolar juga diperkirakan akan terus menekan emas hari ini.
Indeks dolar terbang ke 98,59 atau posisi tertinggi dalam 12 hari terakhir.
"Terlihat ada aksi bargain hunting setelah kerugian pada Selasa, baik di pasar emas maupun perak," kata analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, kepada Reuters.
Dari sisi geopolitik, Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade AS terhadap Iran akan terus berlanjut.
Sumber yang mengetahui hal tersebut juga menyebut Trump belum menetapkan batas waktu gencatan senjata. Namun, belum ada tanda-tanda perundingan damai akan dimulai kembali.
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon juga mendapat tekanan setelah sedikitnya tiga orang tewas akibat serangan drone Israel di Lebanon.
Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan emas mendapat sedikit dukungan dari harapan bahwa situasi di Selat Hormuz bisa terselesaikan setelah pernyataan Trump. Namun, kondisi saat ini masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian.
Harga emas telah turun sekitar 11% sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, karena kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan permintaan terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil itu.
Calon Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, mengatakan pada Selasa bahwa ia tidak memberikan janji kepada Trump untuk memangkas suku bunga. Ia menegaskan kepada senator AS bahwa dirinya akan bertindak independen dari Gedung Putih sambil mendorong reformasi yang lebih luas.
Addsource on Google


















































