Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dinamika pasar, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) diperkirakan tetap memiliki prospek positif pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh fundamental bisnis BBNI yang tergolong solid.
Sebagaimana diketahui, pada 2025 BBNI mencatatkan laba bersih senilai Rp 20,04 triliun. Hasil tersebut didukung oleh pendapatan bunga bersih yang juga relatif tinggi yakni sebesar Rp 40,33 triliun.
Bersamaan dengan itu, harga saham BBNI juga mampu bergerak stabil di tengah ketidakpastian global dan mencapai level Rp 4.480 per saham hingga Jumat (13/2/2026) lalu.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menuturkan, secara umum emiten-emiten di sektor perbankan masih memiliki daya tahan tinggi di tengah ketidakpastian global. Terlebih lagi, pemerintah sangat agresif menyalurkan stimulus domestik seperti bantuan sosial yang terbukti mampu menjaga konsumsi rumah tangga dan kepercayaan konsumen.
Emiten yang memiliki basis CASA solid seperti BBNI pun diyakini akan tetap mendominasi pasar, meski terdapat tekanan dari sisi Net Interest Margin (NIM) lantaran memasuki era suku bunga acuan rendah. Proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang dijaga di level 5,2% pada 2026 akan menjadi pemicu utama ekspansi kredit perbankan seperti BBNI.
Lantas, Wafi menilai fundamental BBNI masih cukup solid untuk melanjutkan tren pertumbuhan kinerja pada 2026. Mengingat, pihak BBNI menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 8%-10% dengan NIM dijaga di kisaran 3,5%-3,8% pada tahun ini.
"Saya lihat efisiensi digital akan menjadi game changer untuk menekan cost of fund. Kalau efisiensi ini lanjut dan kualitas aset tetap terjaga di level NPL (Non-Performing Loan) 1,9%, saham BBNI bisa rerating," ungkap dia saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (17/2/2026).
Wafi menambahkan, sentimen positif bagi BBNI datang dari perbaikan kualitas aset, di mana rasio Loan at Risk (LOA) BBNI turun signifikan menjadi 8,5% pada akhir 2025. Di samping itu, BBNI juga fokus pada kredit korporasi blue-chip dan infrastruktur yang memberi profil risiko yang lebih aman.
"Tapi tetap perlu waspada sentimen makro seperti risiko inflasi pangan, fluktuasi rupiah, dan potensi defisit pendapatan pajak yang bisa mempengaruhi daya beli di 2026," kata dia.
Pada akhirnya, Wafi pun merekomendasikan investor untuk beli saham BBNI dengan target harga di level Rp 5.600 per saham.
(dpu/dpu)
Addsource on Google














































