BI Rate Masih Berpeluang Turun, Tunggu Tanda-tanda Ini!

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku masih mencari ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI Rate ke depan. Sebab, tingginya ketidakpastian ekonomi global menghambat keinginannya untuk menurunkan suku bunga acuan saat ini.

Sebagaimana diketahui, dewan gubernur BI kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada Februari 2026. Setidaknya, level BI Rate itu telah ditahan selama 5 bulan dari hasil rapat dewan gubernur BI sejak September 2025.

"Global ketidakpastiannya tinggi, sehingga kami akan pantau terus apakah ada kesempatan nanti ke depan untuk merealisasikan ruang penurunan suku bunga," papar Perry saat konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI secara daring, Kamis (19/2/2026).

Perry mengakui, suku bunga acuan yang rendah saat ini dibutuhkan Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bisa lebih cepat. Apalagi, tekanan inflasi kata dia masih terus terkendali di kisaran 2,5% plus minus 1%.

"Jadi arah kebijakan suku bunga ke depan kami masih konsisten, masih memandang ruang penurunan suku bunga terbuka dengan inflasi rendah dan perlunya pertumbuhan ekonomi terus didorong," paparnya.

Perry menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global masih dipicu oleh prospek perekonomian global dalam tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan melambat dari 3,3% pada 2025 menjadi 3,2% dan dibarengi dengan divergensi pertumbuhan antarnegara.

Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global terutama dipengaruhi oleh dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan berlanjutnya tensi geopolitik, kecuali AS yang diprakirakan meningkat dipengaruhi oleh besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI).

Ekonomi Eropa dan Jepang diprakirakan melambat dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang turun sejalan dengan perlambatan ekonomi global serta permintaan domestik yang belum kuat di tengah pengaruh investasi AI yang meningkat.

Adapun ekonomi China ia anggap tetap dalam tren melambat akibat konsumsi rumah tangga yang belum kuat, sementara ekonomi India juga belum kuat dengan menurunnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal.

Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) tetap terbuka seiring pasar tenaga kerja yang masih lemah. Yield UST terutama tenor panjang tetap tinggi sejalan dengan peningkatan risiko fiskal AS.

Perkembangan ini mendorong aliran modal ke negara berkembang terjadi secara selektif, terutama ke saham dan obligasi jangka pendek. Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) melemah di tengah kenaikan permintaan terhadap safe haven assets yang mendorong kenaikan harga emas.

"Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diprakirakan tetap tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi," ucap Perry.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |