Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklaim konsumsi ikan masyarakat Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Indikasi paling nyata terlihat menjelang Ramadan, ketika permintaan ikan melonjak tajam hingga penjualan di pasar tradisional tembus ratusan kuintal per pedagang, dan sejumlah komoditas ludes hanya dalam hitungan menit.
Lonjakan konsumsi tersebut terpantau langsung oleh KKP saat melakukan pemantauan lapangan di sejumlah sentra perdagangan ikan, termasuk Pasar Pabean Surabaya, Jawa Timur. Tingginya minat masyarakat disebut membuat pasokan ikan cepat terserap pasar, meski jumlah pedagang di lokasi tersebut mencapai ratusan.
Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud, mengatakan peningkatan konsumsi ikan menjelang Ramadan terlihat jelas dari volume penjualan pedagang yang melonjak drastis dalam waktu singkat.
"Kenaikan itu karena permintaan, permintaan menjelang Ramadan itu cukup tinggi, sehingga kemarin saja satu pedagang bisa menjual hampir 700-800 kwintal, padahal di situ ada 200 pedagang, permintaan dan cepat habis, waktu itu cepat habis, hanya beberapa jam kemudian sudah habis, memang permintaan sangat tinggi," kata Machmud saat ditemui di kantor KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Machmud menuturkan, tingginya permintaan membuat sejumlah komoditas ikan habis terjual tak lama setelah tiba di pasar. Kondisi ini, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa konsumsi ikan kini semakin diminati masyarakat.
"Di situ contoh saja cumi, waktu itu hanya datang tidak sampai 15 menit sudah terjual semua, baru datang, berarti memang permintaan cukup tinggi," ujarnya.
Tak hanya cumi, ikan bernilai tinggi lainnya juga mengalami kondisi serupa. Bahkan, dalam pengamatannya langsung, ikan kakap merah habis terjual dalam waktu kurang dari setengah jam.
"Juga ada kakap merah, waktu datang tidak sampai setengah jam langsung habis. Itu satu pedagang saya lihat sendiri. Itu memang berarti konsumsi ikan memang sudah mulai jadi pilihan bagi masyarakat yang ada di Pasar Pabean kemarin," sebut dia.
Seiring melonjaknya konsumsi, Machmud mengakui harga ikan menjelang Ramadan dan Lebaran memang mengalami kenaikan. Namun, kenaikan tersebut dinilai masih relatif kecil dan tidak terjadi merata di semua jenis ikan.
"Untuk harga-harga ikan, berdasarkan data yang kami kumpulkan dari beberapa lokasi, dan juga kami langsung ke lokasi, kemarin baru kami pulang dari Pasar Pabean Surabaya, itu harga-harga ikan menjelang Ramadan dan Lebaran ini terjadi kenaikan, tapi tidak terlalu besar kenaikannya, bahkan kemarin ada beberapa ikan yang harganya turun, itu tergantung dari produksi," jelasnya.
Ia menyebut, beberapa jenis ikan tangkap justru mengalami penurunan harga karena pasokan melimpah. Masuknya produksi dari daerah, seperti Madura, turut menekan harga di pasar.
"Kemarin yang turun harganya, contoh adalah ikan kembung, ikan selar, kemudian ikan layang. Kemarin kami lihat itu harganya turun, karena produksi waktu itu masuk dari Madura cukup banyak juga ke Pasar Pabean," ucap dia.
Sementara itu, harga ikan budidaya relatif stabil meski permintaan meningkat. Komoditas seperti ikan nila dan lele masih bertahan di kisaran harga yang sama dalam beberapa hari terakhir, yakni Rp25.000-Rp30.000 per kg.
"Ada yang stabil harganya itu biasanya ikan-ikan budidaya, seperti nila, lele itu harganya stabil. Jadi selama beberapa hari itu harganya di angka Rp25.000 sampai Rp30.000 (per kg), tidak terlalu banyak perubahan, memang ada yang naik biasanya itu ikan-ikan yang memang tidak diproduksi, dan agak cenderung stoknya kurang, tapi tidak terlalu banyak," terangnya.
Machmud mengatakan, para pedagang menilai kelancaran produksi dan distribusi menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap terkendali, meski konsumsi masyarakat terus meningkat menjelang Ramadan.
"Jadi para pedagang kemarin menyampaikan ke kami, bila produksi kemudian distribusi itu lancar, itu harga-harga stabil, itu yang disampaikan ke kami. Itu kami juga tanya langsung kepada para pedagang dan juga para pembeli," pungkas Machmud.
(hoi/hoi)
Addsource on Google

















































