Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberi tekanan terhadap harga ikan di pasar menjelang Ramadan. Pergerakan harga ikan yang terjadi saat ini, disebut karena adanya lonjakan permintaan masyarakat, bukan karena penyerapan ikan untuk program pemerintah tersebut.
Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud, mengatakan hingga kini tidak terlihat adanya gangguan pasar akibat MBG, khususnya pada komoditas ikan budidaya yang banyak digunakan dalam program tersebut.
"Menurut kami belum (berdampak karena MBG). Sampai sekarang itu belum, karena posisinya untuk lele dan nila juga itu sudah ada di situ. Jadi tidak mengganggu pasar di sana," kata Machmud saat ditemui di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan langsung KKP di sejumlah pasar, termasuk Pasar Pabean Surabaya, harga ikan menjelang Ramadan memang mengalami kenaikan, namun dalam batas wajar. Bahkan, beberapa jenis ikan justru tercatat mengalami penurunan harga seiring pasokan yang melimpah.
Machmud menyebut ikan kembung, selar, dan layang sempat mengalami penurunan harga karena produksi yang meningkat dari wilayah Madura. Sedangkan harga ikan budidaya seperti nila dan lele relatif stabil, berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram (kg) dalam beberapa hari terakhir.
Ia menekankan kestabilan harga sangat ditentukan oleh kelancaran produksi dan distribusi. Temuan di lapangan menunjukkan, harga cenderung terjaga apabila pasokan tersedia secara memadai.
"Memang ada (harga) yang naik biasanya itu ikan-ikan yang memang tidak diproduksi, dan agak cenderung stoknya kurang, tapi tidak terlalu banyak. Jadi para pedagang kemarin menyampaikan ke kami, bila produksi kemudian distribusi itu lancar, itu harga-harga stabil, itu yang disampaikan ke kami dan kami juga tanya langsung kepada para pedagang dan juga para pembeli," jelasnya.
Lebih lanjut, Machmud menilai kenaikan harga pada beberapa komoditas lebih disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan. Aktivitas jual beli di pasar berlangsung sangat cepat, bahkan stok tertentu habis dalam hitungan menit.
"Kenaikan harga itu karena permintaan. Permintaan menjelang Ramadan itu cukup tinggi. Cumi waktu datang tidak sampai 15 menit sudah terjual semua, baru datang sudah habis," ujarnya.
Terkait MBG, Machmud menyebut penggunaan ikan sebagai menu program tersebut masih dalam skala terbatas dan belum berdampak signifikan terhadap pasar. Saat ini, pasokan ikan untuk MBG ditopang oleh kerja sama dengan pelaku usaha mikro dan kecil, serta pengembangan budidaya tematik oleh KKP.
Data KKP mencatat, hampir 100 pelaku usaha mikro sektor kelautan dan perikanan telah bermitra dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG dalam penyediaan bahan baku ikan, terutama lele dan nila. Selain itu, KKP juga mengembangkan budidaya tematik di sekitar 100 titik di Pulau Jawa guna memperkuat suplai.
Machmud menegaskan, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi ikan sebagai sumber protein nasional, agar kebutuhan program MBG dan konsumsi masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
"Ke depan ya sumber protein ikan kita juga akan semakin banyak. Sehingga kalau nanti kebutuhan untuk MBG yang 82,9 juta (penerima manfaat), kalau nanti ikan kita siap," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google


















































