Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mencatat penguatan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial atau KLM masih terus ditempuh ke depannya. Dari data BI, insentif KLM yang disalurkan ke perbankan telah mencapai Rp 427,5 triliun pada minggu pertama Februari 2026.
"Implementasi KLM sejak Desember 2025 diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit perbankan serta penetapan suku bunga kredit yang sejalan arah kebijakan BI," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/2/2026).
Dari total insentif KLM Rp 427,5 triliun, alokasi lending mencapai Rp 357,9 triliun dan interest rate Rp 69 triliun. Jika rinci berdasarkan kelompok perbankan, bank BUMN mendapatkan KLM Rp 207,1 triliun, bank usaha syariah nasional (BUSN) Rp 184,8 triliun dan BPD Rp 28,5 triliun dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp 71 triliun.
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menuturkan transmisi dari kebijakan BI untuk suku bunga kredit memang baru dioptimalkan melalui KLM. Dari kebijakan ini, BI melihat efektivitasnya untuk mendorong penurunan suku bunga kredit.
"Itu tercermin kalau kita lihat suku bunga sekarang eksisting turun 40 bps yang baru turun 75 bps dibanding BI Rate 125 bps turun. Ini menunjukkan transmisi kebijakan suku bunga mulai berjalan didorong kebijakan KLM dengan fokus interest channel," kata Destry.
Dari data BI, KLM hingga saat ini sudah terpakai 4,83% dari DPK. BI masih memiliki space hingga 5,5%.
"Masih ada 0,7% yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan insentif," ujarnya.
(haa/haa)
Addsource on Google















































