Maduro Bukan Satu-Satunya, Ini Daftar Pejabat yang Pernah Ditangkap AS

1 day ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan militer berskala besar.

Serangan ke jantung kota Venezuela, Caracas, itu membuat warga panik dan kondisi kota luluh lantak. Ia menyatakan operasi militer AS berjalan sukses dan langsung menargetkan pucuk pimpinan Venezuela untuk ditangkap dengan melibatkan penegak hukum AS.

Menurut laporan Reuters, Trump menyebut Maduro telah dibawa keluar dari Venezuela. Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Venezuela terkait klaim tersebut.

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengaku pemerintah setempat tidak mengetahui keberadaan Maduro dan istrinya Cilia Flores.

Ketegangan antara Washington dan Caracas memang meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump menuding Maduro menjalankan "negara narkoba" dan memanipulasi pemilu. Di sisi lain, Maduro secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menuding AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela, yang terbesar di dunia.

Penangkapan Maduro yang dilaporkan bukan merupakan yang pertama kali bagi AS menangkap pejabat negara lain. Pada era sebelumnya ketika para pemimpin lain, seperti mantan pemimpin militer Panama Manuel Noriega dan mantan Presiden Irak Saddam Hussein, ditangkap oleh AS.

Manuel Noriega

AS menginvasi Panama pada tahun 1989 untuk menggulingkan pemimpin militer dan de facto Manuel Noriega. Alasannya adalah perlindungan warga negara AS di Panama seperti praktik-praktik yang tidak demokratis, korupsi, dan perdagangan narkoba ilegal.

Sebelum menyerang Panama, AS mendakwa Noriega atas penyelundupan narkoba di Miami pada tahun 1988, sama seperti yang telah mereka lakukan terhadap Maduro.

Noriega memaksa Nicolas Ardito Barletta untuk mengundurkan diri pada tahun 1985, membatalkan pemilihan umum pada tahun 1989, dan mendukung sentimen anti-AS di negara tersebut, sebelum operasi itu berlangsung.

Invasi AS ke Panama pada saat itu merupakan operasi tempur AS terbesar sejak Perang Vietnam. Pemerintah AS mengemukakan berbagai alasan untuk operasi tersebut, seperti memperbaiki nasib warga Panama dengan membawa Noriega ke AS untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba.

Namun, ketika sang jenderal mulai menunjukkan tanda-tanda kurang patuh terhadap rencana regional AS, ia dinyatakan sebagai persona non grata oleh AS.

Noriega diadili berdasarkan dakwaan Miami setelah diterbangkan ke AS dan dipenjara di sana hingga tahun 2010, ketika ia diekstradisi ke Prancis untuk menghadapi persidangan lain. Prancis kemudian mengirimnya kembali ke Panama setahun kemudian.

Pada akhirnya ia meninggal di penjara di Panama pada tahun 2017, tempat ia menjalani hukuman atas kejahatannya.

Saddam Hussein

Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap oleh pasukan AS pada 13 Desember 2003, sembilan bulan setelah invasi dan pendudukan Irak yang dipimpin AS dimulai berdasarkan intelijen palsu bahwa Baghdad memiliki senjata pemusnah massal.

Seperti Noriega, Saddam selama bertahun-tahun telah menjadi sekutu utama AS dalam kasusnya, selama tahun-tahun perang Irak-Iran pada tahun 1980-an yang menewaskan satu juta orang.

AS juga mengklaim, tanpa dasar, menjelang perang tahun 2003 bahwa Saddam mendukung kelompok-kelompok bersenjata seperti al-Qaeda.

Namun, tidak ada senjata pemusnah massal yang pernah ditemukan di negara tersebut.
Saddam ditemukan bersembunyi di sebuah lubang dekat kota kelahirannya di Tikrit.

Ia diadili di pengadilan Irak dan dijatuhi hukuman mati, yang berujung pada eksekusinya dengan cara digantung karena kejahatan terhadap kemanusiaan pada tanggal 30 Desember 2006.

Juan Orlando Hernandez

Kasus Hernandez ditangkap di rumahnya di Tegucigalpa dalam operasi yang dilakukan oleh agen AS dan pasukan Honduras pada Februari 2022, hanya beberapa hari setelah ia meninggalkan jabatannya sebagai presiden negaranya.

Pada April 2022, ia diekstradisi ke AS atas dugaan keterlibatannya dalam korupsi dan perdagangan narkoba ilegal, dan pada Juni tahun yang sama, ia dijatuhi hukuman 45 tahun penjara.

Namun, Hernandez diampuni oleh Presiden AS Donald Trump pada 1 Desember 2025. Beberapa hari kemudian, jaksa penuntut umum Honduras mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional untuk Hernandez, yang memperparah kekacauan hukum dan politik hanya beberapa hari setelah mantan pemimpin itu dibebaskan dari penjara Amerika Serikat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(ras/ras)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |