Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Utara kembali meluncurkan rudal ke arah Laut Timur atau yang juga kerap dikenal sebagai Laut Jepang pada Minggu (20/9/2026).
Berdasarkan laporan Korea Herald, Kementerian Pertahanan Korea Selatan belum mengungkapkan rincian mengenai jumlah rudal yang diluncurkan maupun jenis proyektil yang digunakan.
Namun, laporan peluncuran tersebut menjadi aksi ke-14 Korea Utara sepanjang tahun ini, setelah sebelumnya melakukan 13 kali peluncuran rudal.
Salah satu peluncuran sebelumnya terjadi pada 12 September 2026, ketika sejumlah rudal balistik jarak pendek ditembakkan dari wilayah Wonsan menuju Laut Timur dan terbang sekitar 250 kilometer.
Pada pekan lalu, Korea Utara juga meluncurkan beberapa rudal balistik jarak pendek ke arah laut pada Sabtu (12/9/2026), sehari setelah Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang mengakhiri latihan militer trilateral Freedom Edge.
Melansir AP News, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan sejumlah rudal tersebut diluncurkan dari wilayah pesisir Wonsan dan terbang sekitar 250 kilometer menuju perairan timur Korea Utara.
Peluncuran pada 12 September menjadi yang pertama dalam sekitar tiga pekan dan dilakukan setelah latihan militer trilateral yang dipandang Korea Utara sebagai provokasi.
Militer Korea Selatan kemudian meningkatkan status pengawasan dan bertukar informasi mengenai peluncuran tersebut dengan Amerika Serikat dan Jepang.
Dewan Keamanan Nasional kepresidenan Korea Selatan mendesak Korea Utara menghentikan peluncuran rudal balistik yang dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, Komando Pasifik AS menyatakan peluncuran tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap wilayah AS maupun sekutunya.
Latihan Freedom Edge yang berlangsung selama lima hari berakhir pada Jumat (11/9/2026) sesuai jadwal.
Komando Pasifik AS menyebut militer ketiga negara berlatih bersama dalam domain udara, laut, dan siber, termasuk manuver maritim, pengisian bahan bakar di udara, koordinasi siber, dan latihan medis.
Militer Korea Selatan sebelumnya mengatakan latihan tersebut bersifat defensif dan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan respons bersama terhadap ancaman nuklir Korea Utara.
Beberapa jam setelah latihan dimulai pada Senin, Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Song Gi mengecam latihan tersebut sebagai tindakan provokatif dan mengancam akan mengambil tindakan balasan.
Pada Minggu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga menyerukan pembangunan penangkal nuklir yang lebih andal dalam upacara peresmian kapal perusak angkatan laut kedua negara tersebut.
Korea Utara menyatakan kedua kapal perusaknya dapat membawa rudal berkemampuan nuklir, sementara kapal perusak kedua sebelumnya mengalami kerusakan akibat kegagalan peluncuran pada tahun lalu sebelum diluncurkan kembali setelah diperbaiki.
Kim Jong Un diketahui terus memperluas persenjataan nuklir Korea Utara setelah diplomasi tingkat tinggi dengan Presiden AS Donald Trump runtuh pada 2019.
Trump pada bulan lalu memerintahkan Pentagon untuk secara signifikan mengurangi latihan tahunan Ulchi Freedom Shield bersama Korea Selatan, dengan alasan hubungan yang baik dengan Kim Jong Un.
Namun, saudara perempuan Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Korea Utara, Kim Yo Jong, menolak langkah tersebut dengan mengatakan pemangkasan durasi latihan tidak mengubah sifat yang disebutnya provokatif dan agresif.
Setelah itu, militer Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke laut yang dinilai sebagai tindak lanjut dari ancaman untuk merespons latihan militer AS dan Korea Selatan.
Pengembangan program nuklir Korea Utara serta hubungan yang semakin erat dengan Rusia dan China dinilai oleh sejumlah pakar dapat memengaruhi posisi Kim Jong Un dalam kemungkinan diplomasi dengan Amerika Serikat.
Kim sebelumnya mengatakan bahwa Korea Utara dapat kembali ke meja perundingan apabila AS menghentikan kebijakan yang disebutnya bermusuhan dan menghormati status Korea Utara sebagai negara nuklir.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]


















































