Heboh Kawah Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok, Ini Penjelasannya

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena menyerupai telur ceplok muncul di area kawah Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. Adapun, fenomena tersebut terlihat setelah aktivitas erupsi besar Gunung Anak Krakatau pada 3 September 2026 lalu.

Adapun, penampakan kawah yang menyerupai telur ceplok ini beredar dalam tangkapan video yang diunggah di Instagram oleh akun @wxchasing.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono yang juga mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengatakan kawah Anak Krakatau yang tampak seperti "telur ceplok" terjadi karena interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur/belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal.

"Warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik, sedangkan bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi oleh fluida serta gas panas," ujar Daryono kepada CNBC Indonesia, Minggu (20/9/2026).

Daryono melanjutkan, genangan air menempati bagian terendah kawah, sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur.

"Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif, bukan sesuatu yang aneh, misterius atau pertanda bahaya," katanya.

"Saya menyebutnya, genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, batuan (acid-sulfate alteration)".

Menurutnya, fenomena ini dapat muncul atau berubah setelah episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah mengalami perubahan.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan fenomena tersebut merupakan hal yang wajar setelah aktivitas erupsi. Genangan yang tampak seperti telur ceplok itu merupakan air yang terkontaminasi gas belerang.

"Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang," kata Suwarno, dikutip dari detikSumbagsel, dikutip Minggu (20/9/2026).

Menurut Suwarno, fenomena serupa tidak selalu muncul di setiap gunung api. Pada Gunung Anak Krakatau, warna genangan tersebut terbentuk karena air di kawah bercampur dengan belerang dan material dari lapisan dinding kawah.

"Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu," jelasnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |