Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta warga tetap waspada terhadap penyakit menular dari hewan kurban. Kemenkes mengatakan penyakit menular itu salah satunya Anthrax.
"Kementerian Kesehatan menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis dari hewan ternak pada saat hari raya kurban Idul Adha," jelas Andi Saguni selaku Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan saat jumpa pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
"Dan penyakit zoonosis, ya, adalah penyakit atau infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Dalam hal ini, penyakit Anthrax menjadi penyakit zoonosis utama dari hewan ternak yang menurunkan kewaspadaan pada saat hari raya Idul Adha," lanjutnya.
Andi menjelaskan penyakit Anthrax bersumber dari bakteri yang bernama Bacillus anthracis. Bakteri ini, kata dia, mempunyai kemampuan membentuk spora yang bisa bertahan di lingkungan yang cukup lama.
Untuk penularannya, yang pertama, bisa melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, baik melalui kulit maupun inhalasi (hirupan udara). Kemudian penularannya juga dapat terjadi melalui konsumsi daging yang kurang matang, termasuk paparan terhadap tanah dan limbah.
Dia menyebut, dari data yang dimiliki Kemenkes, Anthrax bisa menimbulkan risiko kematian. Puncak penularannya terjadi pada 2023. Saat itu, ada 81 kasus penularan Anthrax.
"Kita lihat dari data ini, pada tahun 2023 ada tiga kasus kematian akibat Anthrax ya. Dan di tahun 2024 itu cuma satu. Kemudian alhamdulillah di tahun 2025 tidak ada kematian dan sampai sekarang pun 2026 alhamdulillah tidak ada kematian," terang Andi.
"Dan tentunya dengan kewaspadaan ini kita berharap kita bisa menjaga kesehatan masyarakat kita sehingga kasus yang terjadi itu minimal atau tidak ada dan kita berharap bahwa tidak ada lagi angka kematian," imbuhnya.
Dia menerangkan, ada tiga tipe Anthrax, yaitu infeksi pada kulit, kemudian gastrointestinalis, yakni bermanifestasi di saluran pencernaan, serta Anthrax meningitis yang bisa menimbulkan radang di otak. Paparan umumnya, kata dia, bisa terjadi pada saat penyembelihan, pengelolaan, hingga konsumsi dari daging yang terinfeksi.
Dia menjelaskan, dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular tersebut, ada empat hal yang bisa dilakukan. Dari pemilihan dan pembelian hewan.
"Jadi tangan setelah kontak, itu harusnya kita pastikan ya pada saat proses pemilihan dan pembelian itu kita jaga ya, mencuci tangan dengan sabun ya setelah proses itu. Dan sekali lagi, tidak membeli hewan sakit atau bergejala sakit sebagai hewan kurban," tuturnya.
Kemudian kedua, pada saat proses transportasi dan penampungan. Pada saat proses tersebut, harus dilakukan pemisahan antara hewan yang sehat dan sakit.
Kemudian yang ketiga adalah pada saat proses pemotongan dan pencacahan. Dia meminta masyarakat menggunakan celemek atau apron, masker, sarung tangan, hingga sepatu bot.
"Yang keempat adalah pembuangan limbah kurban ya dan bisa kita pastikan bahwa terjadi pemisahan limbah padat ya, isi perut kotoran dan limbah cair ya, seperti darah dan eh yang lainnya," imbuh dia.
"Itulah standar-standar utama dalam proses penanganan hewan kurban," pungkasnya. (kuf/whn)

















































