Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia terus menguat menjelang Lebaran.
Pada hari ini, Jumat (28/3/2025), harga sawit ada di posisi MYR 4.392/ton, atau menguat 1,92%. Penguatan ini memperpanjang rally harga CPO menjadi tiga hari beruntun dengan kenaikan 3,5%.
Sepanjang dua pekan terakhir, harga kontrak berjangka CPO mengalami fluktuasi signifikan. Pada perdagangan Jumat (21/3/2025), harga CPO ditutup di level MYR 4.375 per ton, mengalami koreksi dari MYR 4.413 per ton pada Kamis (20/3/2025). Sementara itu, pada Rabu (19/3/2025), harga sempat menyentuh level MYR 4.389 setelah mencapai level tertinggi MYR 4.450. Tren penurunan berlanjut hingga Senin (24/3/2025), di mana harga ditutup di MYR 4.305 per ton.
Namun, harga kembali bergerak naik pada Selasa (25/3/2025), menyentuh MYR 4.245 per ton setelah sempat menyentuh level tertinggi MYR 4.357. Pada Rabu (26/3/2025), harga kembali menguat ke MYR 4.259 per ton sebelum akhirnya ditutup di MYR 4.312 per ton pada Kamis (27/3/2025).
Keaikan harga minyak sawit dipicu oleh kebijakan China yang kemungkinan beralih ke CPO dari minyak lain karena perang dagang.
"CPO ditopang oleh China yang mengalihkan pembelian mereka dari canola oil ke CPO. Saat ini China masih banyak membeli minyak canota dari Kanada," tutur salah seorang pedagang dikutip dari hellenic shipping news.
Harga canota oil terancam naik sebagai imbas kebijakan tarif Presiden Donald Trump ke Kanada.
Harga minyak sawit mentah juga ditopang kenaikan harga minyak kedelai di Chicago semalam. Pergerakan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap permintaan minyak nabati yang lebih kuat, seiring dengan ketidakpastian pasokan global.
Namun, CPO juga menghadapi tantangan lain. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan bahwa stok minyak sawit Indonesia pada Januari 2025 naik 14% dibanding bulan sebelumnya, meskipun produksi mengalami sedikit penurunan.
Ekspor CPO anjlok ke level terendah dalam empat bulan, dengan total 1,96 juta metrik ton, turun dari 2,06 juta metrik ton pada Desember 2024 dan turun 30% dibanding tahun sebelumnya.
Selain faktor permintaan, sentimen lain yang berpotensi mempengaruhi harga CPO ke depan adalah kebijakan pemerintah Indonesia terkait tata kelola industri sawit. Pemerintah berencana menyerahkan lebih dari 1 juta hektare lahan kelapa sawit yang sebelumnya disita dari perusahaan ilegal kepada BUMN Agrinas Palma Nusantara. Pergantian kepemilikan ini dikhawatirkan akan berdampak pada produksi jangka pendek akibat perubahan pengelolaan perkebunan.
Dengan kombinasi faktor-faktor ini, volatilitas harga CPO diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika China terus meningkatkan pembelian minyak kedelai sebagai alternatif minyak sawit.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)