Aktivis dan keluarga korban menggelar pawai di Mexico City, menuntut keadilan bagi lebih dari 130.000 orang yang hilang di Meksiko.
Para aktivis dan keluarga korban penghilangan paksa menggelar pawai di sepanjang Paseo de la Reforma, Mexico City, Minggu (30/8/2026), untuk memperingati Hari Internasional Korban Penghilangan Paksa sekaligus menuntut keadilan bagi lebih dari 130.000 orang yang masih dinyatakan hilang di Meksiko. (REUTERS/Toya Sarno Jordan)
Peserta membawa spanduk, foto, dan poster orang-orang yang hilang. Banyak foto korban dipasang di pembatas jalan dan pagar sepanjang rute pawai sebagai bentuk tuntutan agar pemerintah mengungkap keberadaan mereka. (REUTERS/Toya Sarno Jordan)
Rosa Elena Tovar Rodriguez, yang putranya Luis Fernando Duran Tovar hilang di Michoacan pada 13 Maret 2026, mengatakan keluarga masih minim mendapatkan informasi dari pihak berwenang. Sementara itu, Nancy Mendoza, yang mencari saudaranya Josue Ricardo Mendoza Martinez, mengatakan keluarga korban kerap terpaksa melakukan pencarian sendiri. (REUTERS/Toya Sarno Jordan)
Meksiko mencatat lebih dari 135.000 orang hilang, dengan jumlah kasus melonjak sejak 2006 setelah Presiden Felipe Calderon melancarkan perang terhadap kartel narkoba. Pemerintah menyatakan dukungan bagi madres buscadoras atau para ibu yang mencari anggota keluarganya sebagai prioritas. (REUTERS/Toya Sarno Jordan)
Namun, keluarga korban mengeluhkan birokrasi yang tidak efisien, minimnya dukungan finansial, serta dugaan serangan terhadap kelompok pencari orang hilang. Mereka juga harus melakukan pencarian di wilayah berbahaya yang menjadi basis operasi kartel, sementara banyak kasus yang belum terpecahkan dinilai mengaburkan gambaran sebenarnya mengenai tingkat kejahatan kekerasan di Meksiko. (REUTERS/Toya Sarno Jordan)


















































