Salma Laiqa, CNBC Indonesia
01 September 2026 19:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Restorasi ekosistem bukan sekedar menanam kembali pohon di kawasan yang rusak akibat aktivitas bisnis maupun gangguan lingkungan. Society for Ecological Restoration (SER) mendefinisikannya sebagai proses membantu pemulihan ekosistem asli yang telah terdegradasi, rusak, atau hancur.
Pemulihan tersebut mencakup kembalinya fungsi ekosistem, mulai dari komposisi spesies, struktur komunitas, kondisi fisik, hingga proses ekologisnya.
Dalam praktiknya, restorasi dapat dilakukan dengan memperbaiki vegetasi dan hidrologi, mengendalikan spesies invasif, hingga mengembalikan satwa liar ke habitatnya.
Karena itu, salah satu tanda penting bahwa sebuah ekosistem mulai pulih adalah ketika kawasan tersebut kembali mampu menyediakan habitat bagi satwa liar.
Kemunculan satwa tidak hanya menunjukkan kawasan kembali hijau, tetapi juga mulai berfungsi sebagai tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak.
Upaya pemulihan tersebut juga berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Data terbaru Forestix Kementerian Kehutanan menunjukkan rehabilitasi hutan dan lahan pada 2024 dilakukan di seluruh provinsi, dengan Kalimantan Timur mencatat luas terbesar mencapai sekitar 30.838 hektare.
Beruang Madu Hingga Lutung Merah Mulai Terpantau
Salah satu perkembangan terbaru terlihat di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Pada Juni 2026, Otorita IKN melaporkan beruang madu, lutung merah, rusa sambar, serta berbagai jenis burung hutan semakin sering terpantau di kawasan Nusantara.
Dilansir dari Otorita IKN, satwa tersebut berlangsung seiring upaya mengembalikan fungsi alami kawasan melalui konsep smart-forest city.
Sebagian kawasan IKN sebelumnya didominasi perkebunan monokultur dengan keanekaragaman hayati yang lebih rendah, sehingga pemulihan diarahkan bukan hanya pada penanaman pohon, tetapi juga rewilding atau mengembalikan fungsi ekosistem alami.
Sejak 2022 hingga 2026, sekitar 5 juta pohon telah ditanam. Dua koridor satwa juga dibangun di kawasan Jalan Tol Balikpapan - IKN untuk menghubungkan kembali habitat yang sebelumnya terfragmentasi.
Hubungannya dengan satwa terletak pada kualitas habitat. Vegetasi yang semakin beragam dapat menyediakan makanan dan perlindungan, sementara konektivitas antarkawasan memungkinkan satwa bergerak lebih bebas. Karena itu, meningkatnya kemunculan satwa dapat menjadi salah satu sinyal bahwa fungsi ekologis kawasan mulai terbentuk kembali, meski belum otomatis berarti populasinya sudah pulih.
Lutung merah (Presbytis rubicunda) Foto: Rhett A. Butler
Orangutan Kembali ke Hutan yang Direstorasi
Contoh yang lebih matang terlihat di Pematang Gadung, Ketapang, Kalimantan Barat.
Mengutip dari Mongabay, kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat kebakaran besar pada 2015, kemudian direstorasi melalui penanaman kembali vegetasi, termasuk pohon buah yang menjadi sumber makanan orangutan.
Hingga awal 2026, sekitar 300 hektare kawasan telah direstorasi dengan lebih dari 150.000 pohon. Pada 2024, kamera jebak untuk pertama kalinya kembali merekam orangutan menggunakan kawasan restorasi tersebut. Burung dan babi hutan juga mulai kembali terlihat.
Kasus ini menunjukkan bahwa restorasi membutuhkan waktu. Pohon tidak hanya harus tumbuh, tetapi juga perlu kembali membentuk struktur habitat, menyediakan makanan, dan menciptakan ruang yang aman sebelum satwa dapat memanfaatkannya kembali.
Namun, pemulihan tersebut tetap rentan. Kebakaran kembali melanda sebagian kawasan pada 2026, menunjukkan bahwa keberhasilan restorasi dapat terancam jika tekanan terhadap habitat muncul kembali.
Kenapa Kembalinya Satwa Liar Penting?
Ekosistem yang terlihat hijau belum tentu telah pulih sepenuhnya. Standar terbaru Society for Ecological Restoration pada 2026 menilai pemulihan dari berbagai atribut, termasuk komposisi spesies, struktur ekosistem, fungsi ekologis, kondisi fisik, hingga hubungan dengan lanskap di sekitarnya.
Satwa menjadi bagian penting dari proses tersebut. Kehadiran berbagai jenis fauna menunjukkan kawasan mulai menyediakan kembali kebutuhan dasar seperti makanan, tempat berlindung, habitat berkembang biak, dan konektivitas dengan ekosistem lain.
Satwa juga membantu menjaga fungsi ekosistem. Sebagian menyebarkan biji, membantu regenerasi vegetasi, mengendalikan populasi organisme lain, hingga menjadi bagian dari rantai makanan.
Karena itu, keberhasilan restorasi tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam atau berapa luas kawasan yang kembali hijau. Yang lebih penting adalah apakah ekosistem tersebut kembali mampu menjalankan fungsinya dan menopang kehidupan dalam jangka panjang.
(slm/slm)


















































