Jakarta, CNBC Indonesia - China makin agresif mengembangkan teknologi chip otak atau brain-computer interface (BCI). Bahkan, para ilmuwan memprediksi teknologi ini akan 'meledak' dan digunakan masyarakat luas dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan.
Langkah ini dinilai berpotensi membuat Amerika Serikat tertinggal dalam perlombaan teknologi masa depan, termasuk dalam pengembangan chip otak yang juga digarap oleh perusahaan milik Elon Musk, Neuralink.
Pemerintah China baru saja memasukkan teknologi BCI sebagai salah satu industri strategis utama dalam rencana pembangunan lima tahunan terbaru. Teknologi ini ditempatkan sejajar dengan sektor masa depan lain seperti komputasi kuantum, kecerdasan buatan embodied AI, jaringan 6G hingga energi fusi nuklir.
Direktur Sichuan Institute of Brain Science, Yao Dezhong, mengatakan teknologi BCI saat ini berkembang sangat pesat dan mulai mendekati tahap penggunaan praktis.
Menurutnya, dalam beberapa tahun ke depan masyarakat bisa mulai melihat perangkat BCI digunakan secara nyata untuk berbagai kebutuhan medis.
"Kebijakan baru tidak akan langsung mengubah keadaan dalam semalam. Saya pikir dalam tiga hingga lima tahun ke depan kita akan mulai melihat beberapa produk BCI bergerak menuju layanan praktis yang benar-benar digunakan masyarakat," kata Dezhong, dikutip dari Reuters, Senin (9/3/2026).
China saat ini menjadi negara kedua di dunia yang melakukan uji coba chip otak invasif pada manusia. Lebih dari 10 uji klinis sedang berlangsung, jumlah yang bahkan setara dengan Amerika Serikat.
Para peneliti juga menargetkan lebih dari 50 pasien akan terlibat dalam uji coba teknologi ini sepanjang tahun 2026.
Sejumlah eksperimen terbaru menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan. Pasien lumpuh dan penyandang amputasi dilaporkan mampu kembali menggerakkan tubuh mereka secara terbatas, bahkan mengendalikan tangan robotik dan kursi roda pintar menggunakan sinyal otak.
Pemerintah China juga mulai serius mengintegrasikan teknologi ini ke sistem kesehatan nasional. Beberapa terapi BCI bahkan sudah dimasukkan ke dalam asuransi kesehatan nasional di sejumlah provinsi percontohan.
Nilai pasar teknologi BCI di China diperkirakan mencapai 5,58 miliar yuan atau sekitar US$809 juta pada 2027.
Yao menilai China memiliki sejumlah keunggulan besar dalam pengembangan teknologi ini. Selain populasi besar dan kebutuhan pasien yang tinggi, negara tersebut juga memiliki rantai industri yang efisien serta jumlah talenta sains dan teknologi yang melimpah.
Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan dalam mengubah riset laboratorium menjadi teknologi medis yang siap digunakan secara luas.
Di sisi lain, perusahaan seperti Neuralink milik Elon Musk saat ini fokus pada teknologi chip yang ditanam langsung ke jaringan otak menggunakan robot bedah canggih yang mampu menanam ratusan elektroda dalam hitungan menit.
Namun Yao menegaskan bahwa China kini bergerak sangat cepat mengejar teknologi tersebut.
"Nahkan arah teknologi yang dikembangkan oleh Musk pada dasarnya juga dapat dicapai di dalam negeri." pungkasnya.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































