Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat untuk meninggalkan Arab Saudi, Senin (9/3/2026). Perang yang melanda Timur Tengah, usai serangan AS dan Israel ke Iran makin meluas ke seluruh Timur Tengah.
Kedutaan Besar AS di Riyadh menyebutkan ada peningkatan risiko dari konflik bersenjata, terorisme, dan serangan rudal dan drone. Tak hanya dari Iran, tapi juga dari Yaman, di mana proksi Iran Houthi berada.
"Memerintahkan karyawan pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga karyawan pemerintah AS untuk meninggalkan Arab Saudi karena risiko keselamatan," tulis pengumuman Departemen Luar Negeri AS, dimuat AFP.
Itu menandai perintah evakuasi pertama yang dikeluarkan oleh Washington di Arab Saudi sejak perang dimulai. Amerika sebelumnya telah memberikan izin kepada staf non-esensial untuk pergi tetapi tidak mewajibkan mereka untuk melakukannya.
Perintah tersebut juga menunjukkan kekhawatiran yang berkelanjutan tentang perang. Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa ia siap untuk perang selama beberapa minggu lagi dan Teheran mengatakan siap untuk merespons.
"Memperingatkan warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke Arab Saudi," tambahnya lagi.
Sebelumnya, drone menghantam kedutaan AS di ibu kota Saudi, Riyadh, pekan lalu. Drone juga menyebabkan kerusakan di kedutaan AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA).
Pada hari Minggu, Arab Saudi mengatakan dua orang tewas dan 12 luka-luka ketika sebuah proyektil mendarat di provinsi Al Kharj. Iran telah bersumpah untuk menuntut balasan setelah Amerika dan Israel melancarkan serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Sabtu meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan tersebut. Tetapi, ia kemudian mengatakan Iran akan "terpaksa membalas" jika negara-negara tersebut digunakan untuk menyerang Iran.
(sef/sef)
Addsource on Google


















































